Penting! 5 Persiapan Sebelum Khutbah Jumat

2,366

BERANIDAKWAH.COM | Persiapan Sebelum Khutbah Jumat. Keberhasilan seorang penceramah atau khatib sangat berkaitan dengan persiapan sebelum naik mimbar. Jika asal-asalan dalam mempersiapkan khutbahnya, maka hasilnya pun tidak dapat maksimal. Alih-alih dapat menguatkan keimanan para jamaah, malah bisa jadi menambah pusing para jamaah karena tidak nyambungnya materi dengan kondisi mereka. Atau bisa menimbulkan polemik baru di masyarakat. Maka persiapan sebelum ceramah mutlak dibutuhkan bagi setiap khatib. Apalagi bagi mereka yang belum banyak memiliki pengalaman berkhutbah di khalayak ramai, maka persiapan harus dipersiapkan sebaik mungkin. Bentuk persiapan yang harus disiapkan diantaranya:

Pertama, Niat Ikhlas Karena Allah Ta’ala

Niat merupakan hal yang penting sebelum mengawali aktivitas apapun, termasuk dalam hal ini ialah berkhutbah. Ikhlas inilah yang akan menjadikan seorang dai lantang menyuarakan kebenaran dan mengarahkan umat menuju jalan kebenaran. Dan yang lebih penting dari itu, ikhlas dapat menjadikan amal seseorang diterima di sisi Allah.

Keikhlasan ini sangat penting terlebh di saat para takmir masjid menyediakan anggaran yang tidak sedikit untuk para khatib. Sehingga banyak para khatib yang salah niat dalam berkhutbah hanya mengejar bayaran semata. Sungguh sangat naif jika seorang khatib naik mimbar hanya untuk mendapatkan amplop dari pengurus masjid. Bahkan dalam rangka untuk mendapatkan hasil yang banyak dari khutbahnya ia tega untuk pasang tarif. Dan tidak sedikit dari mereka yang membatalkan jadwal khutbah di salah satu masjid karena ada tawaran berkhutbah du tempat lain yang bayarannya lebih besar. Na’udzubillah

Para khatib harus senantiasa mengingat hadits qudsi berikut ini:

Dari Abu Hurairah berkata, bersanda Rasulullah, “Allah berfirman, ‘Aku tidak butuh pada sekutu-sekutu itu, barangsiapa beramal dengan suatu amalan dan mempersekutukan Aku dengan yang lainnya dalam amalan itu, maka akan Ku-tinggalkan dia bersama sekutunya’.” (HR. Muslim)

Keikhlasan akan menjadikan seseorang istiqamah. Keikhlasan juga akan menjadikan seseorang mampu untuk membawa umat. Keikhlasan juga akan mampu menjadikan seseorang berhasil dalam dakwahnya dan insya’Allah mendapatkan surga di akhirat kelak.

Kedua, Lihat Kondisi Para Mustami’ (Pendengar)

Maksudnya, sebelum menyampaikan materi yang sudah dipersiapkan, alangkah baiknya khatib melihat kondisi para pendengar saat akan berceramah. Tujuannya agar apa yang akan disampaikan dapat diterima oleh para mustami’ (pendengar).

Melihat kondisi ini bisa dalam berbagai hal, contohnya memperhitungkan panjang pendeknya waktu ceramah, isi dari materi, dan bahasa penyampaian. Dalam hal ini sahabat Ali bin Abi Thalib berkata,

“Ceritakanlah kepada manusia sesuatu yang mereka ketahui. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari)

Ketiga, Pemilihan Materi Yang Tepat

Seorang khatib ibarat dokter yang mendiagnosa penyakit pasiennya. Dokter tersebut akan mencari penyakitnya dan mencari obat yang tepat sehingga penyakit tersebut terobati dan tidak menulari orang lain. Dokter juga akan mengarahkan pasien hal-hal apa saja yang boleh dikonsumsi, pemberian resep obat dan dihabiskan dalam waktu tertentu.

Demikian pula seorang khatib, dia harus mendiagnosa penyakit yang sedang menjangkiti para jamaah dengan sekasama. Setelah penyakit itu ditemukan, seorang khatib memilih terapi yang paling tepat agar kesembuhan segera datang kepada mereka. Bisa jadi dengan sindiran, tetapi jika diperlukan teguran-teguran atau penjelasan yang detail maka perlu juga disampaikan. Semua ini bertujuan agar para jamaah senantiasa menempuh jalan kebenaran dan menjauhi jalan kesesatan.

Keempat, Usahakan Kuasai Materi Serta Hafalkan Ayat Maupun Hadistnya

Khatib yang hanya membaca teks dan monoton dalam penyampaian serta tidak memperhatikan kondisi jamaah biasanya menjadikan kejenuhan bagi para jamaah. Bahkan tidak sedikit dari jamaah yang tertidur pulas dan mendengkur saat khutbah sedang berlangsung. Padahal pahala yang besar itu hanya diberikan kepada orang yang melakukan shalat Jum’at dan duduk penuh perhatian mendengarkan khatib saat berkhutbah. Sedangkan yang mengantuk dan tidur tidak mendapatkan pahala yang sempurna dari ibadah shalat jum’at.

“Barangsiapa berwudhu dengan membaguskan wudhu, kemudian mendatangi ibadah Jum’at, lalu mendengarkan dan diam (menyimak khutbah), niscaya diampuni dosa-dosa antara Jum’at hingga Jum’at berikutnya, ditambah 3 hari. Sedangkan siapapun yang menyentuh kerikil, maka sungguh dia telah melakukan hal yang sia-sia.” (HR. Muslim)

Apakah orang yang tidur dapat mendengarkan khutbah dengan baik? Tentu tidak! Oleh karena itu peran dari seorang khatib sangatlah penting. Jika para khatib mampu membawakan materi khutbah tanpa teks, hafal dengan ayat dan dalil-dalilnya maka jamaah pun akan terpesona sehingga betah untuk mendengarkan khatib berkhutbah.

Jika memang perlu membawa naskah, sebaiknya tidak membawa naskah yang lengkap, tetapi pada poin-poin pentingnya saja. Jika dengan sikap seperti ini masih ada jamaah yang tidur, khatib boleh untuk mengingatkan dan memerintahkan jamaahnya untuk pindah tempat. Sebagaimana hadits berikut:

“Bila seseorang dari kalian mengantuk di dalam masjid, hendaklah dia berpindah dari tempat duduknya ke tempat lainnya.” (HR. Abu Dawud  dan Tirmidzi)

Kelima, Lakukan Sunnah Sebelum Mengerjakan Ibadah Shalat Jum’at

Salah satu sunnah yang dianjurkan Rasulullah sebelum berangkat ke masjid hendak menunaikan ibadah shalat Jum’at adalah mandi. Hal ini dilakukan agar seorang khatib terlihat rapi dan tampil dengan penuh wibawa dihadapan jamaahnya. Dianjurkan pula dengan memakai pakaian terbaik serta wewangian. Allah berfirman

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Rasulullah bersabda, “Mandi pada hari Jum’at itu wajib bagi setiap muslim yang telah baligh.” (HR. Bukhari)

Jika berpakaian yang bagus serta mandi diperintahkan kepada setiap muslim, terlebih lagi bagi seorang khatib yang akan membawakan Kalamullah.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan