Pidato Khalifah Umar bin Khattab Di Penghujung Hidupnya

310,652

BERANIDAKWAH.COM | Pidato Khalifah Umar bin Khattab Di Penghujung Hidupnya. Saqifah merupakan tempat yang teduh dan nyaman, karena banyak pepohonan atau tenda yang dibuat, di mana orang-orang yang biasa berkumpuk dan berbaur di sana.

Imam Ahmad berkata, telah berkata, dari Ubaidah bin Abdillah bin Uthbah bin Mas’ud, bahwa Ibnu Abbas memberitahukan kepadanya bahwa Abdurrahman bin Auf kembali ke rumahnya, Ibnu Abbas berkata, “Aku ingin memberikan salam kepada Abdurrahman bin Auf,” Maka dia menjumpaiku sementara aku telah menunggunya –peristiwa ini terjadi di Mina pada waktu Umar bin Khattab melaksanakan haji terakhir kali-, maka Abdurrahman berkata, “Sesungguhnya pernah mendatangi Umar dan berkata, ‘Ada orang yang mengatakan bahwa jika Umar wafat, maka aku akan membai’at si fulan!’ Maka umar menjawab, ‘Selepas shalat isya nanti, aku akan berbicara di hadapan manusia sambil memperingatkan mereka dari sekelompok orang-orang yang ingin mencari masalah.”

Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin jangan lakukan hal itu, sebab pada musim haji ini berkumpul orang-orang bodoh dan orang-orang pasaran yang jumlahya sangat banyak melebihi jumlah kita, jika Anda lakukan hal ini, aku takut perkataan Anda itu akan membuat mereka salah paham dan tidak dapat memahaminya dengan baik hingga menimbulkan kekacauan. Tetapi tunggulah hingga Anda sampai di Madinah, sebab Madinah adalah Darul Hajrah. Engkau dapat berbicara di hadapan para ulama dan orang-orang yang mulia, maka katakanlah apa yang menjadi pendapatmu tadi, pasti mereka bisa memahaminya dan dapat menempatkan perkataanmu pada porsinya.’ Umar berkata, ‘Jika aku sampai di Madinah dengan selamat, pasti akan kusampaikan hal tersebut di hari pertama setelah aku sampai.’

Ketika kami sampai di Madinah di penghujung bulan Dzul Hijjah, dan bertepatan dengan hari jum’at, maka aku segera pergi ke masjid dalam kondisi sakkatul a’ma – kutanyakan kepada Malik, ‘Apa maksud dari sakkatul a’ma?’ Dia menjawab, ‘Maksudnya ia keluar dengan tergesa-gesa dan tidak mempedulikan pada waktu kapan ia keluar, apakah cuaca panas ataupun dingin dan sebagainya’ – maka kudapati Sa’id bin Zaid di sisi mimbar sebelah kanan, telah mendahuluiku, aku segera duduk disampingnya dan lututku bersentuhan dengan lututnya. Tidak lama kemudian datanglah Umar, ketika aku melihatnya kukatan, ‘Hari ini ia akan mengeluarkan suatu pernyataan yang tidak pernah di ucapkan siapa pun sebelumnya. Maka Sa’id bin Zaid merasa aneh dengan ucapanku tadi,’ ia bertanya, ‘Apakah gerangan yang akan dikatakannya?’ Hingga seorang pun belum pernah mengucapkannya sebelumnya?’

Pidato Khalifah Umar bin Khattab

Kemudian Umar duduk di mimbar, ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan, Umar berdiri. Setelah memuji Allah, beliau mulai berbicara, ‘Amma ba’du, wahai saudara-saudara sekalian, aku akan mengatakan sesuatu perkara yang telah ditentukan oleh Allah bahwa aku akan mengatakannya. Dan aku tidak tahu, namun merasa ajalku telah dekat, maka barangsiapa yang memahami perkataanku dengan baik, sampaikanlah kepada orang-orang yang dijumpainya, dan barangsiapa yang tidak memahami perkataanku, maka aku tidak halalkan baginya berdusta atas namaku.

Sesungguhnya Allah telah mengutus Nabi Muhammad dengan kebenaran, dan menurunkan wahyu kepada beliau. Di antara ayat yang diturunkan adalah ayat mengenai rajam, dan kita telah membacanya dan memahaminya, bahkan Rasulullah telah melaksanakan hukum rajam dan kita telah menerapkan hukum ini sepeninggal beliau.

Aku takut kelak akan ada yang berani mengatakan, ‘Kami tidak pernah mendapati masalah rajam tertulis dalam Kitabullah.’ Hingga akhirnya dia tersesat dengan meninggalkan suatu kewajiban yang Allah turunkan. Maka sesungguhnya hukum rajam itu benar-benar ada dalam Kitab Allah bagi orang yang berzina jika telah menikah, baik laki-laki maupun wanita apabila telah jelas bukti-buktinya, atau tanda berupa al-Hablu (hamil dari zina) maupun berdasarkan pengakuan sendiri.

Ingatlah, kita telah membaca

‘Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian (dengan menasabkan diri kalian kepada selain bapak kalian), karena sesungguhnya merupakan sesuatu kekufuran jika kalian membenci bapak-bapak kalian.’

Ingatlah! Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda:

‘Janganlah kalian menyanjungku secara berlebihan sebagaimana Isa bin Maryam disanjung, sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, karena itu katakanlah, ‘Hamba Allah dan RasulNya’.’

Sampai kepadaku berita bahwa di antara kalian ada yang mengatakan, ‘Jika Umar telah wafat, maka aku akan membai’at si fulan.’ Janganlah seseorang terkecoh dan mengatakan, bahwa bai’at Abu Bakar hanyalah kebetulan saja dan kini telah usai. Ingatlah! Sesungguhnya pengangkatan dirinya benar demikian adanya, namun (dengan pembai’atan tersebut) Allag telah menjaga keburukan terjadi. Tidak ada seorang pun di sini di antara kalian yang menyamai kedudukan Abu Bakar yang dipatuhi oleh seluruh manusia, dan sesungguhnya beliau adalah orang yang terbaik di antara kita.

Ketika Rasulullah wafat, maka Ali, az-Zubbair dan orang-orang yang beserta mereka tidak ikut, sebab kala itu mereka di rumah Fathimah. Kaum Anshar tidak seluruhnya berkumpul di Tsaqifah Bani Sa’idah bersama kami. Lalu datanglah kaum Muhajirin kepada Abu Bakar, lalu kutanyakan pada beliau, ‘Wahai Abu Bakar, mari pimpinlah kami untuk berangkat menuju saudara-saudara kita dari kaum Anshar.’ Maka kami seluruhnya berangkat menuju mereka dan berpapasan dengan dua orang shalih dari kalangan Anshar yang menceritakan kepada kami apa yang sedang dibicarakan oleh kaum Anshar. Mereka berdua berkata, ‘Hendak kemanakah kalian wahai kaum Muhajirin?’ Aku menjawab, ‘Kami mau menemui saudara-saudara kami kaum Anshar!’ Maka keduanya berkata, ‘Janganlah kalian mendekati mereka tetapi selesaikanlah urusan kalian sendiri.’ Maka aku menjawab, ‘Demi Allah, kami akan menemui mereka.’ Maka kami berangkat dan menemui mereka di Saqifah Bani Sa’idah, ternyata mereka sedang berkumpul, dan diantara mereka ada seorang yang sedang berselimut. Maka kutanyakan, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Sa’ad bin Ubadah.’ Maka kutanyakan, ‘Ada apa dengannya?’ Mereka menjawab, ‘Dia sedang sakit.’

Tatkala kami duduk, maka berdirilah salah seorang pembicara dari mereka, setelah memuji Allah dia berkata, ‘Amma ba’du, kami adalah kaum Anshar, para penolong Allah dan pionir-pionir Islam, dan kalian wahai kaum Muhajirin adalah kalangan Nabi kami, dan sesungguhnya telah muncul tanda-tanda dari kalian bahwa kalian akan turut mendominasi kami di sini, di tempat tinggal kami ini dan akan mengambil alih kekuasaan dari kami.’

Ketika ia diam maka aku ingin berbicara, dan aku sebelumnya telah mempersiapkan redaksi yang kuanggap sangat baik dan menakjubkanku, aku ingin mengatakannya di hadapan Abu Bakar, dan aku lebih terkesan sedikit keras darinya, maka aku khawatir dia akan mengalah. Namun dia lebih lembut dariku dan lebih disegani. Abu Bakar mencegahku berbicara dan berkata, ‘Tahanlah sebentar!’ Maka aku enggan membuatnya marah, sebab ia lebih berilmu dariku dan lebih disegani, dan demi Allah, tidak satu pun kalimat yang kupersiapkan dan aku anggap lebih baik kecuali beliau sampaikan dengan ekspresinya yang begitu baik dan lancar, bahkan lebih baik dariku, hingga akhirnya aku diam.’

Beliau berkata, ‘Amma ba’du, apa pun mengenai kebaikan yang telah kalian sebutkan, maka benar adanya dan kalianlah pemilik kebaikan-kebaikan itu. Namun orang-orang Arab hanya mengenal kabilah ini, yakni Quraisy. Secara nasab merekalah yang paling mulia diantara bangsa-bangsa Arab. Demikian pula tempat tinggal mereka adalah yang paling mulia daripada seluruhnya. Karena itu aku rela jika urusan kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang dari dua lelaki ini, terserah kalian memilih di antara keduanya,’ kemudian Abu Bakar menarik tanganku dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Aku tidak sedikit pun merasa benci dengan semua perkataan beliau kecuali yang satu ini, dan demi Allah, jika aku maju dan dipenggal kepalaku namun tidak menganggung beban ini lebih kusukai daripada aku memimpin orang-orang yang terdapat di dalamnya Abu Bakar, kecuali jika diriku kelak berubah sebelum mati.’

Kemudian salah seorang Anshar berkata, ‘Ana juzailuha al-muhakkak wa uzaiquha al-murajjab,’ dari kami seorang pemimpin dan dari kalian pilihlah seorang pemimpin wahai orang-orang Quraisy. Perawi Ishaq bin Isa bertanya kepada Malik, ‘Apa makna ungkapan ‘juzailuha al-muhakkak wa uzaiquha al-murajjab?’ Dia menjawab, ‘Sepertinya dia ingin mengatakan bahwa dia memiliki peikiran yang gemilang, dia berkata, ‘Kemudian Umar melanjutkan, ‘Maka mulailah orang-orang mengangkat suara dan timbul keributan, hingga kami mengkhawatirkan terjadinya perselisihan, maka aku katakan, ‘Julurkan tanganmu wahai Abu Bakar, maka beliau menjulurkan tangannya dan aku segera membai’atnya, maka seluruh Muhajirin turut membai’at, yang kemudian diikuti oleh kaum Anshar, dan kami tinggalkan Sa’ad bin Ubadah, hingga ada orang yang berkomentar dari mereka tentangnya, ‘kalian telah membinasakan Sa’ad,’ maka aku sambut, ‘Hanya Allah-lah yang bisa membinasakan Sa’ad.’

Kemudian Umar melanjutkan pidatonya dan berkata, ‘Demi Allah, kami tidak pernah menemui perkara yang lebih berat dari perkara bai’at terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tinggalkan mereka tanpa ada yang dibai’at, maka mereka kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya, kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at yang mereka buat yang pasti akan menimbulkan kehancuran. Maka barangsiapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah terlebih dahulu, bai’atnya dianggap tidak sah. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh.’

Malik berkata, ‘telah berkata kepadaku Ibnu Syihab dari Urwah, bahwa dua orang yang berpapasan dengan kaum Muhajirin tadi adalah Uwaim bin Sa’idah dan Ma’an bin Adi.

Ibnu Syihab berkata, ‘Telah berkata kepadaku Sa’id bin al-Musayyib bahwa yang berkata, ‘Ana juzailuha al-muhakkak wa uzaiquha al-murajjab’ adalah al-Hubab bin al-Mundzir. Dan hadits ini diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadits dalam kitab-kitab mereka dari banyak jalur periwayatan di antaranya Malik dan lain-lain dari az-Zuhri.”

Imam Ahmad berkata, telah berkata kepadaku Mu’awiyah, dari Amr, dia berkata, telah berkata kepada kami Za’idah, dia berkata, telah berkata kepada kami ‘Ashim dari Abdullah (yaitu Ibnu Mas’ud), ia berkata, “Tatkala Rasulullah wafat, orang-orang Anshar berkata, dari kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula, maka Umar mendatangi mereka dan berkata, ‘Wahai kaum Anshar, bukankah kalian mengetahui bahwa Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar agar mengimami manusia sehalat? Siapa di antara kalian yang mengakui bahwa hatinya lebih mulia daripada Abu Bakar?’ Maka kaum Anshar berkata, ‘Na’udzubillah bila kami mengakui lebih mulia dari Abu Bakar’.”

Diriwayatkan pula dari Umar bin Khattab semakna dengan riwayat di atas dari jalur lain. Dan dari jalur Ibnu Ishaq, dari Abdullah bin Abi Bakar, dari az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas dari Umar, beliau berkata, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya yang paling berhak menggantikan Rasulullah adalah sahabatnya yang menyertainya dalam gua. Dialah Abu Bakar yang selalu terdepan dan paling diutamakan. Kemudian segera kutarik tangannya dan ternyata ada seorang Anshar yang lebih dahulu menariknya dan membai’atnya sebelum aku sempat meraih tangannya. Setelah itu bari aku membai’atnya dengan tanganku yang kemudian diikuti oleh orang-orang.” (Sirah Ibnu Hisyam, 4/412)

Muhammad bin Sa’ad meriwayatkan dari Arim bin al-Fadhl dari Hammad bin Zaid, dari Yahya bin Sa’id dari al-Qashim bin Muhammad, kemudian ia menyebutkan kisah yang semakna dengan sebelumnya. Namun dalam riwayat ini disebutkan nama orang Anshar yang pertama kali membai’at Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum Umar bin Khattab adalah Basyir bin Sa’ad, ayahnya an-Nu’man bin Basyir. (Ath Thabaqat al-Kubra, 3/182)

Demikian tadi kisah pengangkatan Khalifah Abu Bakar Ashh-Shiddiq yang diutakan melalui pidato Umar bin Khattab yang pada waktu itu menjadi khalifah. Semoga kisah ini dapat menambah keimanan dan ketawakwaan kita kepada Allah. Aamiin

Baca juga:

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan