Qonaah, Kunci Untuk Menjadi Isteri Shalihah

893

BERANIDAKWAH.COM | Qonaah, Kunci Untuk Menjadi Isteri Shalihah. Fatimah pernah mengeluh tentang beratnya pekerjaan menumbuk dan menggiling tepung. Kemudian ia mendapat berita jika ayahandanya yang tak lain adalah Rasulullah mendapatkan banyak tawanan. Fatimah pun menemui Beliau untuk meminta seorang pembantu. Namun jawaban yang diberikan Rasulullah menolak permintaan puterinya tersebut. Fatimah pun mengadukan hal itu kepada Aisyah. Ketika Rasulullah pulang ke rumah, Aisyah menceritakan aduan Fatimah kepada Beliau.

Malam harinya, Rasulullah menemui Fatimah yang tengah bersiap istirahat bersama suaminya, tak lain adalah Ali bin Abi Thalib. Melihat Rasulullah datang, maka hendak bangkit, tapi Beliau berkata, “Tetaplah disitu.” Fatimah menuturkan, “Saat itu, Aku bisa merasakan kedua kaki Beliau yang dingin di dekat dadaku. Beliau lalu bersabda, “Maukah kalian berdua aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta? Yaitu jika kalian sudah berada di tempat tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tahmid (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali dan tasbih (Subhanallah) tiga puluh tiga kali karena sesungguhnya bacaan-bacaan ini lebih baik dari seorang pembantu.” (HR. Bukhari)

Alasan Fatimah mengeluhkan kondisinya cukup logis, menumbuk dan menggiling tepung bukan pekerjaan ringan bagi wanita. Dalam riwayat disebutkan, tangannya sampai mengeras. Oleh karenanya sangat bisa dimengerti jika Fatimah meminta seorang pembantu. Waktunya pun sangat tepat yaitu ketika Rasulullah memang mampu memberikannya. Sebab suaminya, Ali bin Abi Thalib juga merupakan sahabat yang berpunya.

Sebagai seorang isteri, barangkali ada keinginan memiliki pembantu juga bakal terbesit di benak Anda manakala pekerjaan rumah tangga mulai terasa berlebih. Alasan lain yang mungkin bisa memperkuat alasan Anda adalah agar bisa lebih fokus merawat diri untuk menyenangkan suami. Benar begitu kan?

Tidak perlu khawatir, meskipun dalam hadits tersebut Rasulullah menolak permintaan Fatimah, tapi hadits ini tidak disimpulkan oleh para ulama, sejauh yang kami baca, sebagai larangan atau celaan mempekerjakan pembantu. Sah-sah saja memiliki pembantu, karena masing-masing isteri berada pada kondisi, tuntutan dan kemampuan diri yang berbeda-beda. Jika memang sangat memerlukan pembantu, sanggup membiayai dan pola interaksinya bisa diatur agar tetap sesuai syar’i, kenapa tidak?

Titik poin pentingnya bukan disitu, tetapi lebih pada sikap Rasulullah menolak permintaan putri kesayangan Beliau. Ketika permintaannya ditolak, lantas tidak membuat Fatimah benci atau marah kepada Rasulullah, justru Fatimah menerima dan ridha terhadap keputusan Ayahnya. Kenapa Rasulullah menolak permintaan Fatimah? Barangkali karena Beliau menginginkan agar sikap qonaah yang selama ini menghiasai diri putrinya tidak hilang.

Bukan berarti pula, punya pembantu berarti tidak qonaah. Tapi, Fatimah adalah putri Muhammad, teladan seluruh kaum muslimin. Otomatis, Fatimah dan juga isteri-isteri Beliau harus menjadi teladan dalam kebaikan pada level tertinggi, termasuk dalam hal qonaah. Kalau Fatimah memiliki pembantu, muslimah lain yang tak diberi kelebihan harta akan mengambil teladan selain Fatimah, dan beliaupun tak akan mendapat pahal dari keteladanan dalam qonaah.

Sebab itulah Rasulullah justru menguatkan kekuatan hati sang putri dengan mengajarkan dzikir di malam hari. Beliau tahu bahwa sumber kekuatan manusia ada di hatinya. Jika ruhiyatnya kuat, jasmani akan mengeluarkan kemampuan maksimalnya. Oleh karenanya, patutlah kiranya jika kemudian Fatimah dinobatkan sebagai wanita sempurna atas sikap qonaah dan segala kebaikan yang ada pada dirinya.

Rasulullah bersabda, “Ada banyak manusia sempurna dari kaum lelaki, tapi dari kaum wanita tidak ada yang sempurna selain empat orang: Aisyah isteri Fir’aun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad.” (HR. Bukhari)

Inilah poin pentingnya, yaitu pada sikap qonaah. Qonaah merupakan akhlak terpuji yang harus ada pada diri setiap muslim dan muslimah. Khusus untuk para isteri, porsi besar qonaah ada pada sikap menerima pemberian suami dengan kerelaan hati. Pemberian di sini maksudnya adalah pemberian yang bersifat materi, seperti uang belanja dan fasilitas hidup yang meliputi pakaian, rumah dan perabotannya, kendaraan dan perhiasan, dan lain-lain. Soalnya, pemberian yang bersifat non-materi seperti nasihat, bimbingan atau teguran bukan sesuatu yang harus disikapi dengan qonaah manakala kadarnya berkurang.

Sikap qonaah menjadi sangat penting karena qonaah adalah pangkal kesyukuran. Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ niscaya kamu akan jadi orang yang paling banyak ibadahnya, jadilah orang yang qonaah niscaya kami menjadi manusia paling bersyukur, dan cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi mukmin sejati.” (HR. Ibnu Majah)

Dan seperti yang kita tahu, tidak bersyukur atas pemberian suami adalah ‘lubang’ neraka yang paling banyak memakan korban dari para wanita. Rasulullah bersabda, “Wahai para wanita! Bersedekahlah dan perbanyak istighfar. Sebab aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni Neraka.” Seorang wanita bertanya, “Mengapa kami menjadi mayoritas ahli neraka?” Beliau menjawab, “Kalian banyak menyumpah dan mengkufuri (tidak bersyukur) pemberian suami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan pada masalah ada pembantu atau tidak, tetapi menanamkan sikap qonaah dalam diri. Kalau memang sikap mulia ini nihil dalam jiwa seorang isteri, punya pembantu untuk setiap jenis pekerjaan rumah tangga pun masih saja akan terasa kurang. Tapi jika qonaah menghiasi hati, bahkan dengan fasilitas paling sederhana sekalipun seorang isteri akan menerima dengan suka rela dan tetap mampu melaksanakan tugas dengan baik. Masih pula untuk menyempatkan mempercantik diri dengan kosmetik yang juga ala kadarnya akan bisa membuat suami ikut senang.

Begitulah kekuatan qonaah. Qonaah merupakan pangkal kesyukuran, dan syukur adalah solusi bagi sebagian besar urusan rumah tangga. Banyak rumah tangga hancur karena kurang bersyukur. Oleh karena itu tentu sebuah anjuran untuk mencontoh Fatimah untuk mendapatkan derajat mulia di sisi Allah dengan qonaah.

Semoga artikel ini memberikan manfaat dan silahkan disebarkan yang semoga juga dapat menjadi amal sholeh kita semua. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan