Khutbah Jumat: Rezeki Yang Halal Dan Barokah

1,318

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang rezeki yang halal dan barokah. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah memberikan taufiq serta hidayah-Nya, sehingga kita masih dalam keadaan iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan pada nabi junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam, keluarganya, para sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu istiqamah di jalan tauhid hingga hari Kiamat kelak.

Selanjutnya, dari atas mimbar Jumat ini tidak lupa saya wasiatkan kepada diri saya berikut kepada jamaah sekalian, marilah di sisa-sisa waktu yang Allah berikan ini, kita pergunakan untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, yaitu dengan menjalankan segala apa yang diperintahkan dan menjauhkan diri dari seluruh apa yang Allah telah larang.

Suatu ketika Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Umar Ibnu Khattab tentang gambaran takwa itu. Lalu dia menjawab dengan nada bertanya, “Bagaimana jika engkau melewati jalan yang penuh onak dan duri?” “Tentu aku bersiap-siap dan hati-hati”, kata Ubay bin Ka’ab. “Itulah taqwa”, jawab Umar.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Allah telah menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal dan sekaligus untuk mendapatkan mata pencaharian untuk menyambung hidup. Dia ciptakan siang untuk mencari penghidupan dan malam untuk istirahat dan beribadah kepada-Nya.

Allah berfirman, “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An Naba: 10-11)

Rasulullah juga memerintahkan kepada kita untuk bekerja:

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Dawud tidaklah makan kecuali dengan hasil tangan sendiri.” (HR. Bukhari)

Islam juga memerintahkan agar di dalam mencari rezeki itu dengan cara yang baik dan halal. Allah berfirman:

QS. Al Baqarah Ayat 172

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa ketika dia (Ibnu Abbas) membaca ayat ini, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah setan, karena setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 168). Berdirilah Sa’ad bin Abi Waqqash kemudian berkata, “Ya Rasulullah, doakan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan doanya oleh Allah.” Maka Rasulullah bersabda:

Artinya: “Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka Neraka lebih layak baginya.” (HR. Thabrani)

Perintah untuk mencari rezeki yang halal dan memakan yang halal, Allah Ta’ala juga telah memerintahkan kepada para Rasul-Nya dengan firman-Nya:

QS. Al Mu'minun Ayat 51

Artinya: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Maksud makan yang baik di sini adalah yang halal. Yang demikian itu diperintahkan terlebih dahulu sebelum mengerjakan amal shalih, karena dengan memakan yang halal akan membantu untuk melaksanakan amal shalih.

Allah berfirman tentang larangan mendapatkan harta dengan cara yang haram, “Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan cara yang batil.” (QS. Al Baqarah: 188)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Sesungguhnya tuntunan Islam dalam hal makanan sama sebagaimana ajaran Islam dalam masalah yang lainnya, yaitu untuk menjaga akal, jiwa dan raga. Diperbolehkannya makanan yang halal adalah karena bermanfaat bagi badan dan akal. Dan Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar meninggalkan makanan yang kotor dan haram karena akan berpengaruh negatif terhadap hati, akal, dan menghalangi hubungan dirinya dengan Allah, serta menjadi penyebab tidak terkabulnya doa.

Dalam sebuah hadits disebutkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman, seperti Dia perintahkan kepada Rasul-Nya dengan firman-Nya, ‘Wahai para Rasul, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ Dan firman-Nya, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik, dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu beribadah.’ Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut lagi berdebu. Orang tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabb-ku..Ya Rabb-ku..’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan baju yang dipakainya dari hasil yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim)

Hadits di atas menerangkan bahwa makanan yang haram merupakan penyebab tidak terkabulnya doa seorang hamba.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Hendaknya kita bertaqwa kepada Allah Ta’ala dengan cara memakan makanan yang halal dan menjauhi makanan yang haram. Karena makanan yang baik itu mempunyai pengaruh yang besar bagi manusia, terhadap akhlak, kehidupan hati dan jernihnya pandangan serta diterimanya amal-amal kita. Sedangkan makanan yang haram mempunyai dampak buruk bagi manusia, mulai dari doa yang tak terkabulkan sampai amalan-amalan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Semua itu merupakan kerugian yang besar bagi seorang hamba. Karena seorang hamba tidak lepas dari kebutuhan berdoa kepada Allah serta ketaatan kepada-Nya.

Di samping itu masih ada dampak lain dari makanan yang haram, yaitu tidak diterimanya amal-amal yang telah kita lakukan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, kemudian dia sedekahkan, maka tidak akan mendatangkan pahala, dan dosanya ditimpahkan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban)

Ibnu Umar berkata, “Barangsiapa membeli baju dengan sepuluh ribu dirham, namun sepuluh ribu dirham tersebut ada satu dirham yang haram, maka Allah tidak menerima amalnya selama baju itu masih menempel di tubuhnya.”

Ibnu Abbas berkata, “Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada sedikit makanan haram.”

Para salafush shalih sangat berhati-hati sekali terhadap apa-apa yang akan masuk ke dalam mulut dan perut mereka. Mereka amat bersikap wara’ di dalam menjauhi hal-hal yang syuhbat apalagi yang jelas-jelas haram.

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan, Aisyah menceritakan bahwa Abu Bakar mempunyai pembantu yang selalu menyediakan makanan untuknya. Suatu kali pembantu tersebut membawa makanan maka dia pun memakannya. Setelah tahu bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang haram, maka dengan serta merta dia memasukkan jari tangannya ke kerongkongan, kemudian dia muntahkan kembali makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.

Imam An-Nawawi ketika hidup di negeri Syam, dia tidak mau memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang menanyakan tentang sebabnya, maka dia menjawab, “Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang, maka saya khawatir memakan buah-buahan dari kebun tersebut.”

Makanan yang haram bisa disebabkan memang dzatnya yang haram, seperti bangkai, daging babi, darah dan sebagainya. Atau karena haram cara mendapatkannya seperti dengan cara mencuri, riba, curang dalam jual beli, korupsi, suap dan praktek-praktek lain mendapatkan harta dengan cara yang haram (perampokan, penipuan). Seolah-olah hal ini sudah merupakan masalah yang biasa, segala macam cara akan digunakan manusia dalam rangka untuk mendapatkan harta yang sebanyak-banyaknya.

Rasulullah bersabda:

Artinya: “Akan dating suatu zaman, seseorang tidak akan peduli terhadap apa yang dia ambil, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhari)

Padahal harta yang haram itu selain berdampak pada tidak terkabulnya doa dan ditolaknya amal, juga merupakan sebab mendapatkan adzab Allah di akhirat nanti. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa tidak bergerak dua telapak kaki anak cucu Adam di hari Kiamat nanti sampai ditanya (salah satunya) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan ke mana dia belanjakan.

Maka hendaknya kita bermuhasabah, intropeksi diri. Berapa banyak doa yang telah kita panjatkan kepada Allah, berapa banyak istighatsah digelar dalam rangka mengatasi berbagai krisi yang mendera bangsa kita, dan berbagai bencana demi bencana tetap melanda, berbagai krisi tidak teratasi dan berbagai kesulitan tak kunjung usai.

Mungkinkah ini karena bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan praktik-praktik mendapatkan harta dengan cara yang haram?

Demikian khutbah yang kami sampaikan, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan pada kita rezeki yang halal, banyak dan barokah. Aamiin

KHUTBAH KEDUA

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa waspada dan hati-hati, jangan sampai di akhirat termasuk golongan yang merugi, bangkrut dan tertipu. Golongan yang di dunia merasa sudah banyak beramal, tetapi tidak berhati-hati dalam mencari rezeki. Masih banyak cara yang halal yang dapat kita lakukan dalam mencari penghidupan. Janganlah kemudahan dalam mencari rezeki meskipun dengan cara yang haram menjadikan kita silau dan terlena. Penyesalan di kemudian hari tidak berguna. Sebaik-baik hamba adalah yang waspada dan selalu minta bimbingan Rabb-nya.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan