Riba, Transaksi Nista Berbuah Derita Dunia Dan Akhirat

8,142

BERANIDAKWAH.COM | Riba, Transaksi Nista Berbuah Derita Dunia Dan Akhirat. Sebagian orang menganggap riba sebagai cara untuk meraup keuntungan dan melipat gandakan harta, namun Allah menepis anggapan tersebut. Karena bahayanya yang begitu besar, umat terdahulu pun telah dilarang untuk bertransaksi ribawi karena dosa riba begitu besar dan mengerikan. Bahkan Allah mengkategorikan kafir dan menjanjikan azab bagi mereka yang tidak mau meninggalkan riba. Dibalik kerasnya ancaman dan pelarangan ini, Allah hanya menginginkan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. An-Nisa: 130)

Riba, Benalu Dalam Hidup Manusia

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa meringankan seseorang muslim dari suatu derita dunia, niscaya Allah meringankannya dari salah satu derita di hari Kiamat. Barangsiapa yang membebaskan orang yang kesulitan, niscaya Allah meringankan dari kesulitan di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan membantu seorang hamba selagi hamba tersebut membantu saudaranya.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut menggambarkan syariat Islam yang sangat memperhatikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial agar tercipta kebersamaan dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Shadaqoh tidak akan mengurangi sedikit pun harta yang telah dikeluarkan. Begitulah Rasulullah memotivivasi umatnya agar tidak sulit dan pelit untuk peduli dengan orang lain.

Namun, Islam tidak hanya menuntun anak cucu Adam untuk berbuat kebajikan seperti bershadaqah. Kesempurnaan Islam lebih dalam dari itu. Hubungan vertikal atas dasar saling membutuhkan di antara hamba-hamba-Nya, terkadang dijadikan peluang untuk menikam dari dalam. Maka Allah membimbing manusia agar menjauhi perbuatan yang dikategorikan oleh Rasulullah sebagai salah satu dari sab’al-mubiqat (tujuh perkara yang membinasakan), salah satunya adalah makan harta riba, karena dapat merusak sendi-sendi kehidupan yang bersosial. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kamu orang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)

Riba merusak tatanan perekonomian dan kemasyarakatan. Karena jika shadaqoh merupakan lambang kedermawaan, fenomena indahnya hidup bersama dan bukti kemurahan hati, maka riba adalah lawan dari shadaqah yang mulia. Riba hanyalah implementasi dar egoisme dan kekikiran. Cerminan hati yang suram, gersang, dan menyedihkan. Sebuah interaksi yang keji, kotor dan menjijikan. (Tafsir Fi Dzhilalil Qur’an: I/298, al-Asas fit Tafsir: I/633)

Riba, Transaksi Terlaknat

Pengertian Riba secara bahasa adalah tambahan atau kelebihan. Namun hakekatnya, riba merupakan segala bentuk tambahan atau kelebihan yang diperoleh melalui transaksi bathil (tidak dibenarkan secara syariat). Bisa melalui bunga dalam hutang piutang, tukar menukar barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama dan sebagainya. Berbeda dengan jual beli, karena substansi dari keduanya sangat jauh berbeda.

Jual beli adalah transaksi yang menguntungkan kedua belah pihak, sedangkan riba merugikan salah satu pihak. Keuntungan jual beli diperoleh melalui kerja manusia, sedangkan riba keuntungannya dihasilkan dari uang, bukan dari hasil aktivitas manusia. Jual beli mengandung kemungkinan untung dan rugi, bergantung pada kepandaian mengelola, kondisi dan situasi pasar pun ikut menjadi faktor pendukungnya, berbeda jauh dengan riba yang hanya akan menguntungkan salah satu pihak saja dan merugikan yang lainnya.

Namun tetap saja bagi mereka yang menolak perintah Allah ini berdalih, mencari pembenaran bahwa transaksi riba tidaklah mengapa. Allah berfirman, “Mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah melarang riba dan menghalalkan jual beli.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Logika berpikir yang mereka gunakan, sebenarya sudah menunjukkan kerancuan berpikir dan ucapan mereka. Ayat ini menyampaikan ucapan musyrikin Quraisy yang menyatakan, “jual beli adalah sama dengan riba, bukankah keduanya sama menghasilkan keuntungan?” Kurang lebih, deikian logika dari ucapan mereka yang ngawur itu. Mestinya, mereka berkata, “Riba tidak lain kecuali sama dengan jual beli,” karena masalah yang dibicarakan adalah masalah riba sehingga itu yang harus didahulukan penyebutannya. (Tafsir Ibnu Katsir: I/287)

Dari sini, tampaklah bahwa sebenarnya mereka berada dalam kebimbangan. Padahal, selain haram, riba mengakibatkan semua pihak yang terlibat di dalamnya menjadi makhluk terlaknat. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Jabir menuturkan bahwa Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberikannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau berkata, mereka semua adalah sama.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Bukan hanya terlakanat, tapi orang yang memakan harta riba padahal ia tahu keharamannya, lebih keji atau minimal sama bejatnya dengan para hidung belang yang berlumur dosa prostitusi. Dalam sebuah hadits diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda,

“Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang dan ia mengetahuinya, maka di sisi Allah, hal itu lebih berat dari pada tiga puluh enam kali perzinaan.” (HR. Ahmad, Daruqutni dan Thabrani)

Masih dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda, “Riba itu tujuh puluh tiga pintu, dan pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi)

Apa bedanya pelaku riba dengan hewan yang tak berakal? Orang yang menghalalkan perzinaan adalah mereka yang tidak waras karena diperbudak hawa nafsu. Tapi lebih tidak waras lagi jika objek perzinaan itu adalah ibu kandungnya sendiri. Ketinggian derajat seorang manusia sebagai makhluk yang dianugerahi akal untuk berpikir, sirna seketika dan ia terperosok pada titik terendah manakala harta yang dikonsumsinya berasal dari transaksi ribawi. Kurang lebih, demikianlah makna tersirat dari berbagai dalil di atas.

Riba Modern, Riba Yang Paling Jahat

Bagi bangsa Yahudi, keuntungan dengan cara riba hanya boleh dipungut dari ghayim atau non Yahudi yang diyakini sebagai pelayan bagi mereka. Tidak ada pemungutan riba dari sesama Yahudi. Sebab ghayim boleh dijahati dan tidak boleh menjahati sesama Yahudi. Seperti itulah yang mereka sadari lalu diamalkan sesuai yang tertulis dalam kitab hitam mereka, yaitu Talmud.

Kesadaran itu juga dimiliki musyrikin Quraisy, meski mengalami kemerosotan moral yang akut, mereka menganggap riba adalah najis, karena dihasilkan dari kejahatan. Terbukti pada lima tahun sebelum kenabian, saat Ka’bah direnovasi karena kerusakan akibat banjir, mereka tidak meginginkan ada sedikit pun harta riba yang digunakan untuk pembangunannya. (Ar-Rahiiq al-Makhtum: 67). Namun riba yang dpersepsikan jahat itu, terjadi di masa lalu. Adapun di zaman sekarang, riba telah bermetamorfosis menjadi lebih jahat.

Salah satu transaksi perbankan hari ini adalah seorang peminjam dikenakan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran utang tersebut. Praktik ini sebenarnya sangat mirip dengan riba nasiah atau riba jahiliyah di era Abu Jahal. Hanya bedanya, pada sistem riba jahiliyah, bunga baru akan dikenakan apabila si peminjam tidak mampu melunasi utangnya pada waktu yang telah ditentukan. (Minahajul Muslim: 289). Sedangkan praktik perbankan hari ini, sudah mengenakan bunga sejak si peminjam menerima dana yang dipinjamnya. Jelaslah bahwa riba yang terjadi pada zaman dahulu tidak sejahat riba saat ini.

Karena Riba, Derita Dunia Dan Akhirat

Menurut Imam al-Qurthubi, maksud dari ‘Yamhaqullahur ribaa…’ Allah memusnahkan riba, (QS. Al-Baqarah: 276) yaitu ketika di dunia, hartanya tidak akan berbarakah meskipun jumlahnya banyak. Sedangkan menurut Ibnu Abbas, Allah tidak menerima ibadah pelaku riba, seperti ibadah haji, ibadah shalat dan jihad. Riba juga termasuk al-Kabair, yaitu dosa-dosa besar yang Imam Malik mengatakan bahwa apa-apa yang dikonsumsi dari harta riba merupakan sesuatu yang paling buruk, karena Allah telah mengizinkan pelaku riba untuk diperangi. (QS. Al-Baqarah: 279) (Al-Jami’ Ii Ahkamil Qur’an: III/261-262)

Sedangkan menurut al-Qasyanni, orang yang memakan harta riba adalah orang yang merugi dunia akhirat. Karena setiap kali hartanya berlipat, berlipat pula dosa-dosanya. Maka harta itu tidak bisa dimanfaatkan untuk mencari ridha-Nya. (Mahasinut Ta’wiil: III/276)

“Orang-orang yang makan (bertransaksi riba), tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang dibingungkan oleh setan.” (QS. Al-Baqarah: 275). Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ini terjadi di Hari Kiamat. Yakni mereka akan dibangkitkan dalam keadaan sempoyongan, seperti orang gila, tidak tahu arah yang harus mereka tuju. Pelaku riba zaman sekarang, ditengah pesatnya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berada dalam kehidupan yang tidak tentram, dirundung gelisah, selalu bingung seperti kehilangan arah.

Dalam suatu hadits, Rasulullah mensinyalir, “Akan datang suatu masa dimana tidak seorang pun di kalangan manusia kecuali makan riba. Kalaupun tidak memakannya, maka ia terkena debu-debunya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim). Secara implisit, agar kita terhindar dari bahaya riba, hadits tersebut mengingatkan kita untuk selalu bersikap wara’ (berhati-hati) dalam setiap transaksi. Bisa dengan memperdalam ilmu syar’i atau meminta bimbingan kepada alim ulama. Jika kita meninggalkan riba serta menerapkan konsep Islam bahwa hidup adalah tolong-menolong, maka akan terciptalah kesejahteraan, kenyamanan, dan kebahagiaan yang kekal abadi.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan