Salah Kaprah Tentang Sunnah Rasul Malam Jumat

89,950

BERANIDAKWAH.COM | Salah Kaprah Tentang Sunnah Rasul Malam Jumat. Sudah sering kita mendengar ungkapan ini, baik saat berkomunikasi secara langsung maupun sapaan yang kerap muncul dalam jejaring sosial semacam facebook, twitter, ataupun via BBM. Terutama saat malam jumat, banyak ‘status’ yang menulis tentang ‘sunnah Rasul’. Sebua istilah yang dipopulerkan untuk memberi nama lain ‘berkumpul’ dengan istri. Yang membuat risih, ungkapan itu seringkali dijadikan sebagai guyunan atau candaan, namun yang disayangkan adalah banyak dari kita yang mungkin tidak tahu ada dalilnya atau tidak, hanya cenderung ikut-ikutan saja.

Menyoal Makna Khusus ‘Sunnah Rasul’

Sebelum berbicara tentang dalil, sebenarnya mengkonotaskikan ‘sunnah Rasul’ dengan melulu diartikan jima’ dengan istri jelas mempersempit makna ‘sunnah’ yang meliputi segala hal yang disandarkan kepada Nabi, baik perkataan, perbuatan, persetujuan maupun sifat. Atau setidaknya tatkala menonjolkan makna sunnah Rasul pada makna khusus tersebut berpotensi adanya ‘istihza’ atau olok-olokan terhadap sunnah Rasul.

Dan fenomena ini memang banyak kita temukan dalam komentar-komentar orang-orang kafir dan zindik di forum-forum internet yang dengan leluasa mereka melecehkan Nabi dengan bahasa-bahasa tersebut. Ada pula yang dengan bangganya menulis, mengatakan atau menceritakan saat malam jumat atau di hari jumatnya bahwa ia telah melakukan ‘sunnah Rasul’ supaya dimaknai orang bahwa  dia telah berhubungan suamu-istri. Meskipun telah berstatus suami-istri yang sah, tidak selayaknya seseorang menceritakan kepada orang lain tentang hubungan suami-istri yang dilakukannya.

Apalagi bertujuan supaya orang lain membayangkan apa yang ia lakukan bersama istrinya. Rasulullah bersabda, diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid, bahwa ia berada di majelis Rasulullah sementara kaum laki-laki dan wanita duduk di situ. Rasulullah berkata, “Barangkali seorang laki-laki menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama istrinya? Barangkali seorang wanita menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama suaminya?”

Orang-orang diam saja, aku berkata, “Demi Allah, benar wahai Rasulullah. Sesungguhnya kaum wanita melakukan hal itu demikian juga kaum pria.” Lalu Rasulullah bersabda,

“Jangan lakukan! Sesungguhnya hal itu seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan perempuan di jalan lalu keduanya bersetubuh sementara orang-orang melihatnya.” (HR. Ahmad)

Benarkah Itu Sunnah Rasul Di Malam Jumat?

Adapun tentang jima’ di malam jumat, ini sudah sangat populer di kalangan umat Islam hari ini. Seakan telah menjadi pendapat mutawatir akan sunnahnya berjima’ dengan istri di malam jumat. Dan bahwa hal itu memiliki suatu keistimewaan khusus dibanding ketika dilakukan di waktu-waktu yang lain.

Padahal, tak ada hadits shahih atau bahkan lemah sekalipun yang menebutkan secara definitif tentangnya. Yang ada adalah kabar burung yang menyebarkan riwayat, “Barangsiapa melakukan hubungan suami-istri di malam jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.” Ada lagi yang menyamakan dengan pahala jihad fi sabilillah.

Di kitab hadits manapun kita tak akan menemukan riwayat tersebut, dan sekarang tidak sulit untuk mengecek keabsahan suatu riwayat, karena telah banyak software-software yang digunakan untuk melakukan pengujian tersebut. Namun riwayat diatas tak akan kita dapatkan di sana. Riwayat shahih yang ada sedikit keterkaitan dengan masalah ini, salah satunya adalah riwayat dari Aus bin Abi Aus, bahwa Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa yang mandi pada hari jumat dan memandikan, dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khotbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagai pahala amalnya setahun.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Makna ightasala adalah mandi, sedangkan makna ghassala ada dua versi carra membaca dan maknanya. Ibnu al-Mubarak menyebutkan bahwa hadits tersebut dibaca ghasala, maksudnya membasuh kepala. Al-Waki’ membacanya dengan ghasala yang artinya memandikan, yakni memandikan istri. Sedangkan istilah memandikan istri merupakan kisaran dari jima’, karena ketika seorang suami mengumpuli istrinya berarti menjadikan istrinya harus mandi. Hal ini dijelaskan dalam Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abu Dawud.

Jika pun kita menganggap pendapat ini adalah pendapat yang kuat, maka anjuran melakukan jima’ di hari jumat mestinya dilakukan di pagi hari, sebelum berangkat shalat jumat di siang hari, bukan di malam jumat.

Bukan berarti ada larangan untuk melakukan jima’ dengan istri di malam jumat. Pembahasan ini hanya untuk menunjukkan bahwa tidak ada fadhilah khusus melakukannya di malam jumat, dan kedudukannya sama dengan malam-malam yang lain. Ada beberapa sunnah yang disebutkan berkaitan dengan malam jumat secara khusus, dan hari jumat secara umum.

Pertama, memperbanyak bacaan shalawat kepada Nabi disunnahkan pada hari jumat, baik malam maupun siang. Dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari jumat. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku setiap jumat. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam sunan Al-Kubro)

Kedua, membaca surat Al-Kahfi di malam atau siang hari jumat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam jumat, maka ia akan mendapat cahaya antara dirinya dan rumah yang mulia (Ka’bah).” (HR. Ad-Darimi, di shahihkan oleh Al-Albani)

Dan masih banyak lagi sunnah yang benar terkait dengan hari jumat, semoga ulasan di atas bisa memperluas wawasan kita, khususnya tentang ‘sunnah Rasul malam jumat’ yang masih banyak dari umat muslim tidak mengetahui dalil tentangnya. Ayo di share ke lainnya yang semoga saja menambah pundi-pundi amal kebaikan kita nanti. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan