MEDIA DAKWAH ISLAM | KEREN ITU BERANI DAKWAH

Setiap Orang Akan Mendatangi Neraka!

319

BERANIDAKWAH.COM | SETIAP ORANG AKAN MENDATANGI NERAKA. Suatu ketika Abdullah ibnu Rawahah membaca ayat:

QS. Maryam Ayat 71“Dan tidak ada seorang pun dari kamu melainkan mendatangi neraka itu.” (QS. Maryam: 71)

Ia pun menangis sampai tulang-tulangnya nyaris remuk padahal ia masih muda. Menyaksikan suaminya seperti itu, istrinya yang mendampinginya berkata, “Ada apa suamiku?” Ibnu Rawahah menjawab, “Allah telah memberitahukan kepada kita tentang kedatangan kita ke neraka dan tidak mengabarkan mengenai keluarnya kita dari sana.”

Demikianlah seorang yang shalih begitu takut akan datangnya suatu masa ketika manusia mendatangi neraka. Ia memahami bahwa janji Allah itu benar sementara ia tidak tahu apakah ia akan masuk ke dalam surge atau tertinggal di neraka. Ketika Allah berfirman bahwa setiap manusia akan mendatangi neraka hal itu pasti terjadi. Pada saat itu semua manusia akan datang ke sana termasuk para nabi dan rasul.

Ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian mendatangi neraka dalam ayat tersebut. Namun, Ibnu Daqiq al-led dalam Syarah Aqidah Thahawiyah menjelaskan bahwa pendapat yang paling jelas dan paling kuat maksudnya adalah melintas di atas shirath.

BACA JUGA: Selalu Jatuh Dilubang Yang Sama

Ia berhujjah dengan hadits Muslim dalam shahihnya bahwa Rasulullah bersabda, “Demi zat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang akan masuk neraka seorang pun yang telah berjanji setia di bawah pohon.” Hafshah berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman, ‘Dan tidak ada seorang pun dari kamu melainkan mendatangi neraka itu’.” Maka beliau bersabda, “Bukankah engkau mendengar Dia berfirman, ‘Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.’.”

Rasulullah mengisyaratkan mendatangi neraka tidak harus memasukinya. Sebagaimana pula selamat dari keburukan tidak mesti karena terpenuhinya sebab. Sebagaimana ketika seseorang dicari musuhnya untuk dibunuh dan mereka tidak berhasil menemukannya maka kepada orang ini dikatakan, “Allah menyelamatkannya dari musuh-musuhnya.” Al-Hafidz Ibnu Katsir juga berkata bahwa pendapat ini juga dianut oleh Ali dan Ibnu Abbas begitu pula para ulama salaf maupun khalaf.

KETIKA SHIRATH DIBENTANGKAN

Setelah amal manusia selesai ditimbang, Allah memerintahkan agar shirat dibentang. Diletakkanlah ia di antara dua punggung neraka agar orang mukmin, munafik dan ahli maksiat melintas di atasnya. Tidak semua orang bisa selamat melintasinya tergantung amal mereka selama di dunia.

Ibnu Mas’ud menuturkan, “Shirath akan dibentangkan di atas permukaan neraka seperti tajamnya pedang yang diasah, sangat menggelincirkan!. Di atasnya ada besi-besi berpengait dari api dan menyambar-nyambar. Maka ada yang berpegangan lalu jatuh ke dalamnya, ada yang terpelanting, ada yang melintas laksana kilat sehingga tak lama lagi ia selamat, ada yang laksana angina sehingga tak lama kemudian ia selamat, ada yang seperti larinya kuda, ada yang berjalan cepat, lalu ada juga berjalan kaki.” (HR. At-Thabrani, Hasan)

Imam An-Nawawi berkata, “Manusia ketika di atas shirat ada tiga kelompok, pertama adalah kelompok yang diselamatkan dan ia tidak mendapat halangan apapun. Kedua, kelompok yang dicabik-cabik, namun kemudian dilepaskan dan diselamatkan. Ketiga, kelompok yang belengggu dan dilemparkan hingga jatuh ke dalam neraka.”

ORANG KAFIR MASUK NERAKA TANPA MELINTASI SHIRATH

Setelah amal manusi usai ditimbang, setiap orang akan mendatangi neraka. Orang-orang mukmin, baik yang benar keimanannya maupun yang bermaksiat akan berjalan di atas shirat untuk menuju surga. Sementara, orang-orang musyrik dan kafir akan langsung digiring ke dalam neraka. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?’.” (QS. Al-Mulk: 6-8)

Orang-orang kafir akan dilemparkan ke dalam neraka secara hina golongan demi golongan bersama sesembahan mereka. Allah berfirman, “Masuklah kamu sekalian ke dalam nerala bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 38)

Penggiringan orang kafir ke neraka setelah proses penimbangan amal merupakan penggiringan yang sangat menyengsarakan sementara siksa neraka telah menunggu mereka. Orang-orang yang paling buruk di antara mereka diseret ne neraka di atas muka mereka. Sebagian digiring dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Lalu Allah mengembalikan penglihatan, pendengaran dan lisan mereka agar mereka merasakan panasnya siksa.

Allah menggambarkan keadaan mereka dengan gambaran yang sangat mengenaskan ketika berada di depan pintu neraka, “Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina. Mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang beriman berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang zalim itu berada dalam azab yang kekal.” (QS. As-Syura: 45)

Begitulah akibat kesombongan kepada Allah. Tidak ada keadaan yang lebih hina dan nista dari keadaan tersebut.

KEADAAN ORANG MUNAFIK DI ATAS SHIRAT

Setelah orang-orang kafir serta apa yang mereka sembah telah dilemparkan ke dalam neraka seluruhnya, tinggallah orang-orang mukmin, ahli kitab, orang-orang munafik serta pelaku dosa besar dan pelaku maksiat.

Lalu Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang tidak mereka ketahui dan berfirman, “Apa yang kalian tunggu?” “Kami menunggu Rabb kami,” jawab mereka. Kemudian Allah menyingkap betis-Nya sehingga mereka pun mengetahui-Nya. Pada saat itu manusia bersimpuh kecuali orang-orang munafik.

Allah berfirman, “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al-Qalam: 42-43)

Abu Said al-Khudri menuturkan bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda, “Rabb kami menyingkap betis-Nya maka bersujudlah setiap orang mukmin dan mukminah kepada-Nya dan tinggallah orang-orang yang dahulu sujud di dunia karena ingin dilihat dan didengar orang lain. Maka ketika ia ingin bersujud seketika itu pula punggung mereka kaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika orang-orang mukmin melihat Allah, bersujudlah mereka kepada-Nya. Sementara, orang-orang munafik tidak dapat sujud karena punggung mereka menjadi kaku. Setiap kali mereka mencoba untuk bersujud, seketika mereka jatuh tersungkur.

BACA JUGA: Sudah Pernah Infaq!

Allah akan memberikan cahaya kepada orang-orang beriman saat melintasi shirat. Manusia akan melintas sesuai dengan cahaya yang dimiliki. Di antara mereka ada yang diberi cahaya sebesar gunung yang berada dihadapkannya, bahkan ada yang lebih dari itu. Ada yang diberi cahaya seperti pohon kurma yang ada disebelah kanannya. Ada pula yang diberi cahaya kurang dari itu disebelah kanannya. Hingga orang yang terakhir diberi cahaya di jari jempol kakinya. Sesekali bercahaya dan sesekali padam. Jika bercahaya ia melangkah dan jika padam ia diam.

Sementara itu, orang-orang munafik akan padam cahanya. Mereka pun meminta cahanya namun dikatakan kepada mereka, “Kembalilah ke belakang dan carilah sendiri cahaya untukmu.” Saat itu orang-orang munafik akan tertinggal dari orang-orang mukmin dan terpisah oleh dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa. Al-Qur’an menggambarkan kondisi orang munafik ketika itu dalam surat Al-Hadid ayat 13-15.

Demikianlah kondisi orang-orang yang gagal melintasi shirat. Kita berharap semoga Allah menyelamatkan kita di atas shirat., Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang melintasi shirat laksana kilat. Jangan jadikan kami orang-orang yang tergelincir. Aamiin

Leave A Reply

Your email address will not be published.