Siapa Yang Disebut Dengan Thaifah Manshurah?

388

BERANIDAKWAH.COM | SIAPA YANG DISEBUT DENGAN THAIFAH MANSHURAH? – Dalam pembahasan kali ini kita akan nukilkan perkataan Syaikh Abdul Qadir dalam kitab Al-‘Umdah ketika membahas perkataan ulama mengenai siapa sebenarnya thaifah manshurah itu.

Kebanyakan ulama salaf shalih berpendapat bahwa thaifah manshurah adalah para ulama dan ahlul hadits sebagaimana pendapat Imam Al-Bukhari dan Imam Ahmad bin Hanbal. Namun, terdapat kerancuan dalam memahami pendapat mereka, ketika Rasulullah bersabda:

Artinya: “Dien ini akan senantiasa tegak, ada sekelompok dari kaum muslimin yang selalu berperang di atasnya sampai hari kiamat tiba.” (HR. Muslim)

Juga riwayat-riwayat yang lainnya yang menyebutkan dengan jelas bahwa berperang itu merupakan ciri khas thaifah ini, seperti riwayat Jabir bin Abdullah, Imran bin Hushain, dan Yazid bin Al-Asham, dari Mu’awiyah dan Uqbah bin Amir. Sehingga tidak mungkin thaifah ini terdiri dari ulama saja, melainkan mereka adalah ahlul ‘Ilmi (ulama dan ahlul jihad (mujahidin).

Karena itu, setelah menyebutkan perkataan Imam Al-Bukhari, Imam Ahmad, dan yang lainnya, Imam An-Nawawi berkata, “Dan bisa jadi thaifah ini terpisah-pisah di berbagai macam kalangan orang-orang yang beriman. Di antara mereka ada ahli perang yang pemberani, ada para fuqaha, ada para ahli hadis, ada orang yang zuhud dalam melaksanakan amar makruf nahi munkar, dan ada pula yang ahli dalam berbagai macam kebijakan, dan mereka semua tidak harus berkumpul akan tetapi tersebar di berbagai penjuru dunia.

Begitu juga di dalam fatwa yang berkenaan dengan perang melawan orang-orang Tartar yang mengucapkan dua kalimat syahadat namun berhukum dengan selain syariat Islam, Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa orang yang berjihad adalah orang-orang yang paling berhak masuk dalam kriteria thaifah manshurah sebagaimana perkataan: “Sedangkan kelompok yang berada di Syam, Mesir dan lainnya mereka pada saat ini adalah orang-orang yang berperang membela Dinul Islam dan mereka adalah orang-orang yang paling berhak masuk dalam thaifah manshurah yang disebut oleh Rasulullah di dalam haditsnya yang shahih dan masyhur:

Artinya: “Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi dan menelantarkan mereka hingga terjadi kiamat.” Dan dalam riwayat Muslim berbunyi, “Akan senantiasa ada ahlul gharb (orang-orang barat)…”

Maka tidak diragukan lagi bahwa ‘ulama ‘amilin (ulama yang mengamalkan ilmunya) adalah orang-orang yang pertama masuk dalam kelompok ini dan sisanya seperti mujahidin dan yang lainnya mengikuti mereka.

Yang mendorong para salaf shalih untuk mengatakan bahwa thaifah tersebut adalah para ulama, karena tidak ada perbedaan pendapat antara kaum muslimin tentang jihad di kala itu, sedangkan daerah perbatasan telah dipenuhi dengan tentara dan pasukan yang dihadapkan ke arah negara-negara musuh, dan juga karena yang menjadi perusak agama pada zaman itu adalah bid’ah dan kesesatan yang besar. Sementara orang yang ahli untuk menghadapi dan memberantas bid’ah serta kesesatan-kesesatan besar itu adalah para ulama.

Adapun pada hari ini kita sangat membutuhkan kesungguhan para ulama dan mujahidin, yang masing-masing berada pada medannya. Agama ini tidak akan tegak hanya dengan ilmu saja, tidak pula dengan jihad saja, namun harus dengan keduanya secara bersamaan.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Agama ini tidak akan tegak kecuali dengan Al-Kitab, mizan (neraca), dan besi (senjata), Al-Kitab sebagai petunjuk dan besi sebagai pembela, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

QS. Al Hadid Ayat 25

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Maka ilmu dan agama akan tegak dengan Al-Kitab, hak-hak dan transaksi serta serah-terima keuangan akan tegak dengan mizan (neraca), dan hukum hudud akan tegak dengan besi.” (Majmu Fatawa XXXV/361)

Beliau juga berkata, “Pedang-pedang kaum muslimin sebagai pembela syariat (Al-Kitab dan As-Sunnah). Sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir bin Abdullah, “Kamu diperintahkan oleh Rasulullah untuk memukul dengan ini-yaitu pedang bagi orang-orang yang keluar dari ini- yaitu al-Qur’an.”

Beliau berkata lagi, “Sesungguhnya tegaknya agama itu dengan Al-Kitab yang menjadi petunjuk dan besi yang menjadi pembela, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala.”

Syaikh Abdul Qadir berkata, “Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa thaifah manshurah adalah thaifah mujahidah (kelompok yang berjihad) yang mengikuti manhaj syar’i yang lurus yaitu manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kesimpulan dari nukilan-nukilan di atas, tidak ada pertentangan antara pendapat Syaikh Salman dan Syaikh Abdul Qadir. Keduanya memiliki pendapat yang sama ketika menentukan siapa sebenarnya thaifah manshurah itu, Hanya saja, Syaikh Salman menyebutkan thaifah manshurah itu dalam bentuk poin-poin yang menjadi karakteristik dari thaifah manshurah, sedangkan Syaikh Abdul Qadir tidak menyebutkan karakteristik-karakteristik seperti yang disebutkan oleh Syaikh Salman.

Hal ini bisa kita pahami karena Syaikh Salman membahas masalah tersebut dalam bentuk kitab khusus yang memang dibutuhkan sistematika yang baku dan urut, sedangkan Syaikh Abdul Qadir membahasnya dalam sebuah kitab yang secara khusus membahas masalah fikih jihad kontemporer, yang memang fokus pembahasannya masalah jihad.

Bukti kesamaan pendapat Syaikh Abdul Qadir dengan Syaikh Salman adalah ketika Syaikh Abdul Qadir berkata, “Adapun kita pada hari ini sangat membutuhkan kesungguhan para ulama dan mujahidin yang masing-masing berada pada medannya. Agama ini tidak akan tegak hanya dengan ilmu saja, tidak pula dengan jihad saja, namun harus dengan keduanya secara bersamaan sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hadid…” dan perkataan beliau, “Maka tidak diragukan lagi bahwa ‘ulama ‘amilin (para ulama yang mengamalkan ilmunya) adalah orang-orang yang pertama masuk dalam kelompok ini dan sisanya seperti mujahidin dan yang lainnya mengikuti mereka.”

Semoga itu menjadi penjelas dalam memahami perkataan mereka yang mungkin bisa jadi ada yang menganggapnya ada pertentangan di antara kedua ulama tersebut. Ini agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 7. Wallahu a’lam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan