Sudah Pernah Infaq!

1,144

BERANIDAKWAH.COM | Sudah Pernah Infaq! Syaikh Thantawi mengisahkan bahwa pada tahun 1946, beliau singgah di Palestina dan menemui beberapa teman dekatnya. Mereka orang-orang yang cukup militant meski menurut beliau masih kalah jauh dibanding orang-orang Yahudi. Ditambah, mereka juga sepertinya tidak berupaya menghimpun dana dari umat untuk keperluan perjuangan melawan kezaliman Yahudi.

Syaikh mencoba menegur mengapa mereka tidak berusaha menghimpun dana. Mereka menjawab bahwa orang-orang di sekitar mereka pelit-pelit. Terlihat tidak percaya, beliau pun diajak ke salah seorang saudagar terdekat. Ternyata saudagar itu memiliki toko besar yang dijejali pembeli. Tanpa menunggu, Syaikh pun segera berbincang dengan sang saudagar. Beliau pun mengarahkan pada pembicaraan mengenai infaq untuk perjuangan. Seluruh argumen dan motivasi coba beliau keluarkan. Sayangnya, kata beliau, semua itu tak ubahnya tiupan angina sepoi pada sebuah batu karang. Jangankan menggucangnya, sekadar terasa pun tidak.

“Aku tidak lalai,” kilah sang saudagar. “Aku tahu kewajiban yang harus kubayar. Aku sudah menyumbang semampuku.” Syaikh berkata, “Apakah sumbangan Anda sama besarnya dengan yang diberikan oleh saudagar Yahudi?” Sang saudagar pun naik pitam, “Apakah Anda menyamakan saya dengan Yahudi?!”

Diaolog terus berlangsung, Syaikh menasehatkan, negeri tempat tinggalnya sedang dalam ancaman serius. Jika dia enggan memberi kontribusi untuk perjuangan, seluruh hartanya bisa musnah. Tapi saudagar masih tetap bergeming, “Aku sudah menyumbang sesuai kewajibanku.”

Syaikh pun pergi. Beberapa tahun berlalu dan saat itu, Syaikh kembali mengunjungi Palestina, ke daerah yang sama. Saat itu, beliau melewati rombongan pengungsi. Tak disangkan beliau bertemu dengan saudagar tersebut, bukan sebagai saudagar lagi tapi sebagai pengungsi. Belum sempat sang Syaikh berkata, sang saudagar telah mendahului, “Jangan katakana apapun. Semua adalah takdir. Jika Allah menghendaki, niscaya menyadarkanku dan semua saudagar untuk menyumbangkan harta yang dimiliki.

Begitulah, firman Allah tidak akan pernah berdusta, “… Dan barang siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri.” (QS. Muhammad: 38). Sedang “… dan barang siapa yang diselamatkan dari kekikiran dirinya, maka mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). Bagaimana tidak beruntung, Allah pun menjanjikan balasan yang besar bagi para penderma, khususnya untuk keperluan perjuangan. Pahalanya akan dilipatgandakan ratusan kali. (QS. Al-Baqarah: 261)

Kisah dan anjuran untuk infaq fi sabilillah di atas tentunya tidak hanya berlaku bagi para saudagar dan orang berpunya. Untuk urusan perjuangan menegakkan dienullah, melindungi nyawa dan kehormatan dari kezaliman yang semuanya membutuhkan dana, seluruh kaum muslimin terbebani pundaknya. Dan karena perjuangan tersebut berlanjut, infaq fi sabiilillah pun bukanlah infaq yang statusnya “sudah pernah”, tapi harus berlanjut mengiringi perjuangan.

Baca juga: Amalan-Amalan Yang Mendatangkan Rezeki Melimpah

Semoga Allah melapangkan hati kita dan mengaruniakan rezeki yang berlimpah agar infaq kita pun bisa berlimpah. Saudara-saudara kita di Suriah, Palestina dan negeri-negeri lain yang tengah berjuang, sangat membutuhkan kontribusi dari kita. Tanggungjawab yang tuntunannya sama kuatnya dengan tanggungjawab kita atas anak dan istri kita. Semoga Allah menurunkan pertolongan-Nya kepada saudara kita dan memudahkan kita untuk membantu mereka. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan