Sunnah dan Adab-Adab Puasa

4,995

BERANIDAKWAH.COM | Sunnah dan Adab-Adab Puasa. Apa saja sunnah dan adab-adab dalam berpuasa yang benar, berikut ini penjelasannya.

1. Sunnah dan Adab-Adab Puasa: Sahur

diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah bersabda:“Bersahurlah kalian, karena pada sahur itu ada keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Amru bin Al-‘Ash, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Pembeda puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Sahur telah dianggap sah walau hanya dengan seteguk air. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah bersabda:

“Bersahurlah kalian, walau dengan seteguk air.” (HR. Ahmad)

Jika dalam sahur disediakan kurma itu lebih baik, berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwsannya Nabi bersabda:

“Sebaik-baik sahur orang beriman adalah kurma.” (HR. Abu Daud)

2. Sunnah dan Adab-Adab Puasa: Mengakhirkan sahur

Berdasarkan hadits Anas dari Zaid bin Tsabit ia berkata: “Kami makan sahur bersama Nabi, kemudian beliau berangkat menuju shalat.” Aku berkata: “Berapakah jarak antara adzan dan sahur?” ia berkata: “sekitar 50 ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Unaisah binti Hubaib, ia berkata: “Rasulullah bersabda: “Apabila Ummi Ibnu Maktum adzan maka makan dan minumlah kalian, dan jika Bilal yang adzan maka janganlah kalian makan dan minum.”

Jika salah seorang dari kami masih ada sedikit makanan sahurnya, ia berkata kepada Bilal: Tunggu sebentar, sampai aku selesaikan sahurku.” (Isnadnya shahih, Nasa’i)

Apabila seseorang mendengar adzan shubuh dan ada makanan dan minuman yang masih ada di tangannya, silahkan ia selesaikan makan dan minumnya. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah, ia berkata:

“Jika salah seorang kalian mendengar adzan sementara wadah masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakannya sampai ia selesaikan adzannya.” (HR. Abu Daud dan Al Hakim)

3. Sunnah dan Adab-Adab Puasa: Menyegerakan berbuka

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Manusia senantiasa dalam keadaan baik selagi mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dari Abdullah bin Abi Aufa berkata: “Kami pernah menyertai Nabi dalam sebuah perjalanan, saat itu beliau sedang berpuasa. Taatkala matahari tenggelam, ia berkata kepada salah seorang dari kami: “Wahai fulan, bangkitlah dan olahkanlah makanan untuk kita.” Orang itu berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya Anda akhirkan hingga sore.” Beliau bersabda: “Turun dan olahkanlah makanan untuk kita.” (tiga kali). Akhirnya orang itu turun dan mengolah makanan, kemudian Rasulullah minum lalu bersabda:

“Jika kalian telah melihat malam datang dari sini, maka orang yang berpuasa telah berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Berbuka dengan kurma (basah maupun kering) jika ada, atau air

Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: “Rasulullah biasa berbuka dengan beberapa butir kurma basah (ruthab) sebelum shalat, jika tidak ada kurma kering (tamr), jika tidak ada maka beliau meminum beberapa teguk air.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Ibnul Qayyim berkata: “… sesungguhnya memberikan yang manis-manis kepada tubuh di saat lambung kosong itu lebih mudah dicerna dan lebih menghasilkan energi, terutama energi mata, penglihatan mata bisa menguat karenanya. Adapun air, ketika menjalani puasa, hati (limfe) mengalami sedikit pengeringan, jika dibasahi dengan air, maka daya serapnya terhadap makanan setelah itu semakin sempurna.

Oleh karena itu, idealnya orang yang kehausan dan kelaparan sebelum makan makanan mendahuluinya dengan minum sedikit air, baru makan setelah itu. Belum lagi bahwa pada kurma dan air terdapat keistimewaan khusus yang berpengaruh terhadap kebaikan hati dan itu hanya diketahui oleh “dokter-dokter” ilmu hati.” (Zad Al-Ma’ad II/50-51)

5. Ketika berbuka mengucapkan doa berikut ini

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah apabila berbuka mengucapkan:

DOA BERBUKA PUASA YANG BENAR

“Telah hilang kehausan, telah terbasahi urat-urat, dan telah tetap pahalanya, insya Allah.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

6. Meninggalkan apa saja yang bisa menghilangkan pahala puasa

Seorang yang berpuasa harus menjaga lisannya dari kesia-siaan, omong kosong, dusta, ghibah, namimah, kata-kata kotor/ kasar, berkelahi dan berdebat, menahan anggota tubuhnya dari segala bentuk syahwat dan perkara-perkara haram, karena itulah rahasia puasa sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“…diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar bertakwa…” (QS. Al Baqarah: 183)

Oleh karena itu Nabi bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap perbuatan dia meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Apabila tiba hari di mana salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat dosa, membuat keributan dan berbuat bodoh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaknya ia katakan: “sesungguhnya saya puasa”.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dua hadits diatas menunjukkan bahwa kemaksiatan-kemaksiatan tersebut semakin besar keburukannya di bulan Ramadhan dibanding pada waktu lain, bisa merusak kebersihan puasa bahkan bisa jadi membuat puasanya hilang/ batal.

7. Jika ada yang mencaci/ mencela, hendaknya mengatakan: saya puasa

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Apabila tiba hari di mana salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat dosa, membuat keributan dan berbuat bodoh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaknya ia katakan: “sesungguhnya saya puasa”.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits ini maka orang yang dicaci oleh orang lain hendaknya ia mengatakan “aku sedang puasa”. Sunahnya kata-kata ini dikeraskan, baik pada puasa wajib maupun puasa sunnah. Tindakan ini setidaknya memiliki dua faedah, yaitu:

  • Pertama: Agar yang mencela mengerti bahwa yang dicela mengbaikan dia karena puasa, bukan karena tidak mampu menghadapinya.
  • Kedua: Mengingatkan yang mencela bahwa orang puasa tidak boleh mencaci siapa pun, sehingga ada kesan dia melarangnya dari mencaci.

8. Sunnah dan Adab-Adab Puasa: Memperbanyak ibadah

Bulan Ramadhan tidak hanya menjalankan ibadah puasa saja, namun juga alangkah baiknya untuk memperbanyak ibadah-ibadah atau amalan kebaikan lain. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh ampunan dan bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Maka sungguh disayangkan jika bulan Ramadhan hanya terlewati sia-sia tanpa ada bekas setelahnya, gunakan bulan Ramadhan sebagai bulan pembelajaran untuk menghadapi ujian di bulan-bulan berikutnya.

Perbanyaklah ibadah seperti Qiyamul lail, sholat malam, sedekah, menghidupkan shalat-shalat sunnah rawatib, shalat dhuha, dakwah, dan amalan-amalan lain yang mungkin di bulan biasa pahalanya kecil, namun di bulan Ramadhan semua pahala dilipatgandakan oleh Allah Ta’ala.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan