Syahadat: Makna, Rukun, Syarat, Dan Konsekuensi

71,272

BERANIDAKWAH.COM | Syahadat: Makna, Rukun, Syarat, Dan Konsekuensi. Banyak dari umat muslim maupun non-Islam sekarang ini memahami kalimat syahadat hanya pada batas sebuah syarat masuk Islam. Pada dasarnya itu memang benar, namun jika dari kita mau mempelajari kalimat syahadat lebih dalam lagi itu merupakan sebuah pondasi dari Islam dan inti dari dakwah rasul. Karena ketika seseorang mampu memahami dengan benar kalimat syahadat, niscaya tiada celah bagi setan untuk merusak akidahnya demi melakukan perbuatan yang menantang Allah.

Dalam pembahasan kali ini akan dipaparkan pembahasan secara ringkas dan ‘inti’ dari kalimat syahadat. Karena pembahasan kalimat syahadat sebenarnya banyak dan bahkan dalam versi bukunya bisa berijilid-jilid. Ringkasan ini kami ambil dari salah satu Kitab Tauhid Serial Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

KALIMAT SYAHADAT

Makna Syahadat:   لاَ إِ لَهَ ا لَّ للَّهُ

Yaitu beri’tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah, menataati hal tersebut dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.

Jadi mana kalimat ini secara keseluruhan adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”. Khabar “لاَ” harus ditaqdirkan “بِحَقِّ” (yang hak), tidak boleh ditakdirkan dengan  مَوْ جُو د (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini tentu kebatilan yang nyata.

Kalimat la ilaaha illallah telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:

1. La ilaaha illallah yang artinya tidak ada sesembahan kecuali Allah. Ini adalah batil, karena maknanya: sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil itu adalah Allah.

2. La ilaaha illallah yang artinya tidak ada pencipta selain Allah. Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.

3. La ilaaha illallah yang artinya tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah. Ini juga sebagian dari makna kalimat La ilaaha illallah. Tapi bukan itu yang dimaksud karena makna tersebut belum cukup

Dari tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) makna dari kata La ilaaha illallah adalah tidak ada sesembahan yang hak selain Allah.

Makna Syadahat: Anna muhammada rasulullah

Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba dan Rasul Allah yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya, mentaati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan.

Rukun Syahadat (1)

#La ilaaha illallah mempunyai dua rukun:

1. An-Nafyu atau peniadaan: membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.

2. Al-Itsbat atau penetapan: menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat al-Qur’an, seperti firman Allah:

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat…”(QS. Al-Baqarah: 256)

Firman Allah, “siapa yang ingkar kepada thagut” itu adalah makna dari la ilaaha rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, “dan beriman kepada Allah” makna la ilaaha rukun yang kedua. Begitu pula firman Allah kepada Nabi Ibrahim,

“Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku…” (QS. Az-Zukhruf: 26-27)

Firman Allah, “Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, “tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.

Rukun Syahadat (2)

#Anna muhammada rasulullah

Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu pada kalimat “abduhu/abd” (hamba) dan “wa rasuluhu” (utusan-Nya). Dua rukun unu menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah. Beliau adalah hamba dan Rasul-Nya, beliau adalah makhluk paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini.

“abd” di sini artinya hamba yang menyembah, maksudnya adalah beliau diciptakan dari unsur yang sama dengan unsur penciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain. Sebagaimana firman Allah:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu’,..” (QS. Al-Kahfi: 110)

Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah memujinya.

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambanNya.” (QS. Az-Zumar: 36)

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al-Kitab (Al-Qur’an)…” (QS. Al-Kahfi: 1)

Sedangkan rasul artinya orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan). Persaksian untuk Rasulullah dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah.

Mereka ber-istighatsah (minta tolong) kepada beliau, dar selain Allah. Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam menta’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

Syarat-Syarat Syahadat

Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus memenuhi tujuh syarat. Tanpa syarat-syaratnya itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Tujuh syarat syahadat itu adalah:

1. Ilmu (mengetahui)

Artinya memahami makna syahadat dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya tentang hal tersebut. Allah berfirman:

“… akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka menyakini (nya). (QS. Az-Zukhruf: 86)

Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus memahami dengan hati apa yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maksudnya, maka perksakian itu tidak sah dan tidak berguna.

2. Yaqin (yakin/ mantap)

Orang yang mengikrarkan harus menyakini kandungan syahadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu…” (QS. Al-Hujurat: 15)

Kalau ia ragu maka ia bisa menjadi seorang munafik. Nabi bersabda:

“Siapa yang engkau temui di balik tembok ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang menyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga.” (HR. Bukhari)

Maka siapa yang hatinya tidak menyakininya, ia tidak berhak masuk surga.

3. Qabul (menerima)

Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat, yaitu menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menaati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah:

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’.” (QS. Ash-Shafat: 35-36)

Ini seperti halnya penyembah kuburan yang banyak dilakukan oleh orang-orang sekarang ini.  Mereka mengikrarkn la ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan atau benda keramat lainnya. Dengan demikian berarti mereka belum menerima makna laa ilaaha illallah.

4. Inqiyaad (tunduk dan patuh)

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesugguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman: 22)

Al-‘Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu yang berarti patuh/ pasrah.

5. Shidiq (jujur)

Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkannya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah orang munafik dan pendusta. Allah berfirman:

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 8-10).

6. Ikhlas

Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya’ atau sum’ah. Dalam hadits ‘Itban, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah karena menginginkan ridha Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Mahabbah (kecintaan)

Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Allah berfirman:

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya, jelas bahwa hal ini sangat bertentangan dengan makna laa ilaaha illallah.

Konsekuensi Kalimat Syahadat

Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala macam yang dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah. Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik, meninggalkan bid’ah, sebagai keharusan dari penerapan illallah.

Banyak orang yang mengikrarkan syahadat tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah dinafikan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan, serta bentuk Thagut lainnya. Mereka berkeyakinan bahwa tauhid adalah bid’ah. Mereka menolak para dai yang mengajak kepada tauhid dan mencela orang yang beribadah hanya kepada Allah.

Terima kasih telah membaca artikel di atas, dan berikut kami rekomendasikan artikel yang berhubungan dengan ulasan di atas:

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan