Tak Perlu Ada Nisan Di Atas Kuburan

40,948

BERANIDAKWAH.COM | Hukum Nisan Di Atas Kuburan. Jika kita perhatikan, hampir kebanyakan makan yang ada di Indonesia penuh sesak dengan bangunan yang ada di atasnya. Ada yang sekedar membangun nisan, ada pula yang memasang keramik di sekitarnya serta mengelilinginya dengan pagar yang indah. Bahkan ada pula yang mendirikan bangunan yang mewah dan megah laksana sebuah rumah, hingga dilengkapi dengan alat pendingin (AC).

Padahal dalam sebuah hadits disebutkan, dari Abu Al Hayyai Al Asadi ia berkata: Ali berkata kepadaku:

“Maukah engkau aku utus untuk suatu tugas sebagaimana Rasulullah telah mengutusku untuk tugas tersebut! Yaitu jangan engkau biarkan patung melainkan harus engkau hancurkan dan jangan biarkan makam yang menonjol kecuali engkau ratakan dengan tanah.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi)

Dari Jabir ia berkata, “Rasulullah melarang mengapur kuburan dan mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim)

Ibnu Rusyd pengarang Bidayatul Mujtahid berkata, “Imam Malik memakruhkan pendirian bangunan di atas kuburan dan membuat batu nisan yang diberi tulisan, karena itu termasuk perbuatan bid’ah orang-orang yang berharta; mereka mengada-adakannya karena ingin sombong, bangga diri dan cari nama. Dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat.”

Sedangkan Imam Nawawi menyebutkan dalam kitabnya Al Majmu’ Syarhul Muhaddzab dan kitabnya yang lain yaitu Syarh Muslim bahwa membangun apapun di atas kuburan hukumnya haram secara mutlak.

Setiap perintah Allah dan Rasul-Nya pasti memberikan maslahah bagi umatnya, begitu pula sebaliknya larangan Allah dan Rasul-Nya yang diterjang akan memberikan kemadhratan. Contohnya adalah dengan membangun nisan di atas kuburan. Selain menyelisihi Rasulullah, membangun nisan di atas kuburan juga akan menimbulkan beberapa penyimpangan lainnya, di antaranya:

Pertama, bisa menyebabkan timbulnya kesyirikan, karena dikhawatirkan orang-orang yang mengagungkan kuburan tersebut. Kita perlu ingat bahwa awal munculnya kesyirikan di muka bumi adalah dengan dibangunnya tempat ibadah di atas kuburan orang-orang yang shalih sehingga orang-orang akhirnya mengagungkan dan menyembahnya.

Kedua, perbuatan ini termasuk Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang Yahudi yang mempunyai kebiasaan menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.

Ketiga, dapat berlaku Tabdzir dengan membuang-buang harta, lebih utama jika harta tersebut dishodaqahkan kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan.

Keempat, komplek kuburan menjadi sempit dan penuh sehingga menyulitkan orang lain yang akan menguburkan anggota keluarganya yang telah meninggal.

Bukan Wujud Cinta dan Bakti Kepada Keluarga

Di antara alasan mereka mendirikan bangunan di atas kuburan adalah dalam rangka birrul walidin (bakti kepada orangtua) dan menunjukkan kecintaan kepada keluarga yang sudah meninggal dunia. Perlu kita ingat bahwa Rasulullah sangat cinta kepada istri beliau, yaitu Khadijah, begitu pula dengan paman beliau, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Para sahabat dan tabi’in sebagai generasi terbaik umat ini pun juga demikian. Kita tidak perlu meragukan kecintaan mereka kepada keluarganya, namun toh demikian tidak pernah kita dapatkan satu riwayatpunn yang menyebutkan mereka membangun bangunan di atas kuburan atau makam keluarga mereka.

Berbakti kepada orang tua dan menunjukkan kecintaan kepada keluarga memang sangat dianjurkan dalam Islam, akan tetapi dengan cara yang benar dan tidak berlebihan. Cinta dan bakti tersebut bisa diwujudkan dengan cara mendoakan dan memohonkan ampunan bagi mereka, menunaikan wasiat mereka serta berbuat baik kepada teman-temannya yang masih hidup.

Itulah bentuk birrul walidin yang dicontohkan oleh Rasulullah. Bisa juga dengan cara mengeluarkan shadaqah atas nama orang tua meski hal ini masih diperselisihkan oleh para ulama tentang sampainya pahadal shadaqah tersebut pada si mayit; hal ini berdasarkan sebuah hadits shahih bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah, “Ibuku meninggal dunia, seandainya ia sempat bicara tentu ia akan bershadaqah. Bolehkah aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Boleh”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Petunjuk Rasulullah Yang Benar

Lantas bagaimana Rasulullah memberikan petunjuk kepada kita? Beliau memperbolehkan meninggikan makam beberapa jengkal saja dan memberi tanda dengan batu yang diletakkan di atasnya sebagai ciri bahwa itu adalah kuburan. Tidak perlu ditulisi atau dibentuk menyerupai bentuk-bentuk yang berasal dari agama lain. Anas berkata, “Rasulullah memberi tanda kuburan Ustman bin Madz’un dengan batu.” (HR. Ibnu Majah)

Kesimpulan

1. Tidak diperbolehkan membangun nisan di atas kuburan

2. Tanda bahwa itu adalah kuburan bisa menggunakan batu

3. Hal yang dianjurkan Rasulullah adalah berdoa memohonkan ampun si mayit dan menunaikan wasiat (bila ada)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan