Takutlah Kepada Allah, Bukan Manusia

2,288

BERANIDAKWAH.COM | Takutlah Kepada Allah, Bukan Manusia. Dunia benar-benar menjadi tempat ujian dan fitnah. Beruntunglah orang-orang mukmin yang berhasil mengarungi dunia dengan indah di atas syariat Allah. Pasalnya, banyak orang yang begitu takut jika terhina di dunia dan tidak sukses dalam pandangan manusia, tetapi ketakutan yang sama tidak singgah di qalbunya terhadap kegagalan di akhirat yang sebetulnya adalah kegagalan, kerugian, kecelakaan dan kehinaan yang hakiki.

Takut bisnisnya bangkrut jika mengikuti syariah seputar muamalah. Takut kehilangan pelanggan karena menghadiri shalat jamaah. Takut dikucilkan karena menegakkan tauhid dan mengecam kesyirikan.

Takut diusir atau dipecat karena mengenakan hijab yang syar’i, takut dibenci karena memelihara jenggot dan memakai celana cingkrang di atas mata kaki. Takut dianggap tidak tahu mode ketika dalam keseharian kita senantiasa memakai pakaian yang islami.

Takut dicap orang aneh karena tidak mau bergaul dengan ahli maksiat semisal pemabuk, pemain judi, pezina dan lainnya. Takut ditertawakan karena shalatnya mengikuti shalatnya Rasulullah, atau takut dicap sebagai teroris ketika menyerukkan jihad yang syar’i. Dan bentuk ketakutan-ketakutan lain yang kemudian menjadikan diri berani menerjang ketentuan-ketentuan Allah itu.

Akhirat Yang Patut Lebih Dicemaskan

Astaghfirullah, kita berlindung kepada Allah dari kecemasan tersebut. Kita benar-benar tidak mau kalau hal itu terjadi pada diri kita. Karena adzabnya akan benar-benar pedih. Kita ingin menjadi hamba Allah yang dicintai-Nya dan Dia ridha kepada kita. Kita tidak ingin diridhai oleh manusia tetapi ternyata kita dibenci oleh Allah. Sebab tidak ingin kita dilaknat oleh Allah kemudian kita sengsara di akhirat, menjadi penghuni neraka, disiksa selamanya, yang panas apinya tujuh puluh kali lipat panas api di dunia, yang siksa paling ringannya adalah dipakaikan sandal api yang panasnya sampai membuat otak menggelegak seperti air mendidih.

Mari kita renungkan sejenak, mulia di mata manusia bukanlah tujuan utama, melainkan status mulia di sisi Allah Ta’ala. Karena surga dan neraka adalah milik Allah, kalaupun ada orang ridha dan simpati kepada kita, belum tentu mereka bisa menjadi kita bahagaia di akhirat.

Kita diciptakan oleh Allah dan dihidupkan di dunia agar kita bisa mendapatkan bekal sebanyak-banyaknya untuk bisa kembali ke kehidupan kita yang asli, yaitu surga. Bagaimana bisa kita malah lebih memilih sanjungan, persetujuan, pujian, penerimaan dari manusia, sementara semua itu juga menjadikan kita dijauhi oleh Allah? Rasulullah mengancam,

Artinya: “Barangsiapa mencari ridha Allah sementara manusia membencinya, Allah akan tuntaskan segala urusannya dengan manusia. Tapi barangsiapa mencari ridha manusia sementara Allah membencinya, Allah serahkan dia kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi)

Biasanya seseorang menjadi ciut nyali dalam mendakwahkan kebenaran karena sungkan dengan orang yang didakwahi. Misalnya, ada kyai yang salah, kebanyakan santri tidak berani mengingatkan apalagi mengkritik, seperti halnya dengan pemimpin atau penguasa. Tidak menasehati karena takut dihukum atau dipecat. Menasehati dan mengingatkan bukanlah tindakan tidak beradab, justru itu adalah adab yang mulia. Dengan tidak meninggalkan syariah yang diajarkan oleh Rasulullah seperti menasehati tidak didepan umum, menjaga kehormatan mereka, dan lainnya. Rasulullah bersabda,

Artinya: “Janganlah martabat orang-orang menghalangi seseorang untuk menyatakan yang haq jika ia mengetahuinya, menyaksikannya, atau mendengarnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Bagi orang-orang yang tegar melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar walaupun harus bersinggungan dengan banyak kepentingan dan kelompok yang berakibat fatal bagi keselamatan dirinya, Rasulullah telah menjanjikan pahala yang begitu besar di sisi Allah,

Artinya: “Sesungguhnya di antara umatku ada kaum yang diberi seperti pahala generasi pendahulu mereka, yakni karena mereka mengingkari yang munkar.” (HR. Ahmad)

Rasulullah juga pernah memerintah sahabatnya agar tidak takut kepada manusia dalam mendakwahkan kebenaran dari Allah, yang mana perintah tersebut juga bagi kita saat ini. Diceritakan oleh sahabat tersebut yakni Abu Dzar,

Artinya: “Kekasihku Rasulullah memerintahkan kepadaku dengan tujuh hal: memerintahkan aku untuk mencintai orang-orang miskin dan  mendekat kepada mereka, memerintahkan aku untuk memandang orang yang lebih rendah dan untuk tidak memandang orang yang lebih tinggi, memerintahkan aku untuk tetap menyambung kekerabatan meskipun aku dijauhi, memerintahkan aku untuk mengatakan kebenaran walaupun pahit, memerintahkan aku untuk tidak takut celaan dari pencela dalam ketaatan kepada Allah, dan memerintahkan aku untuk memperbanyak mengucapkan laa haula wa laa quwwata illaa billaah, karena kalimat tersebut adalah perbendaharaan yang ada di bawah Arsy.” (As Shahihah no 2166)

Koreksi Diri Sendiri

Yang tidak boleh dilupakan adalah merasa paling benar dan tidak mau dikritik, banyak aktivis muslim yang begitu teguh menegakkan Islam tapi disisi lain justru mengisolir diri dari masyarakat. Akibatnya, muncul persepsi yang keliru bahwa aktivis muslim adalah orang yang ekslusif dan anti sosial.

Aktivis juga manusia, ada saatnya saudara-saudara kita yang salah itu melakukan tindakan yang tidak etis menurut norma sosial yang masih sesuai syariah. Lantas saudara kita itu diperingatkan dan dinasehati, namun saudara kita tersebut menganggap peringatan dan nasihat itu seperti cemooh dan ejekan.

Alhasil dia pun menjadi orang yang tidak menerima nasihat padahal menerinam nasihat itu perintah Allah kendati nasihat itu dari orang yang paling nista nan pendosa. Dan puncaknya dia akan merasa benar sendiri, lalu dia pun bisa dibenci oleh masyarakat luas dan pada akhirnya berhenti untuk berdakwah.

Sikap seperti itu tentu bukanlah sikap yang dianjurkan oleh Rasullah, melainkan sikap untuk siap memberikan nasihat serta menerima nasihat. Oleh karena itu jangan sampai kita salah paham dengan perintah dari jangan takut kepada manusia, kita diperintah demikian itu artinya jangan sampai ketaatan-ketaatan yang semestinya dilakukan menjadi urung dilakukan lantaran hanya gara-gara takut pada manusia. Selagi kita benar-benar berada di jalan kebenaran, kita tidak perlu takut karena kita beramal itu untuk Allah bukan karena manusia.

Hikmah

Yang perlu diingat pula adalah bahwa dalam menegakkan syariat itu harus memperhatikan sisi hikmah. Coba saja bagaimana Rasulullah tidak memarahi orang badui yang kencing di dalam masjid, bagaimana Rasulullah rela bila konstruksi Ka’bah dibiarkan tidak seperti yang dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il, dan bagaimana Rasulullah pada awal-awal beliau dakwah tidak langsung melarang khamr, riba dan tidak pula mewajibkan perintah shalat, zakat dan sebagainya.

Itu semua adalah ketaatan yang wajib, akan tetapi ada hikmah yang menjadikan ketaatan-ketaatan tersebut ada baiknya jika ditunda atau bahkan tidak dilaksanakan, dimana akan ada hikmah yang lebih besar. Jadi dari sini kita juga mengingat bahwa melakukan ketaatan itu pun harus penuh perhitungan, akankah lebih besar manfaatnya atau lebih besar mudharatnya.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan