Tata Cara Mandi Janabah / Mandi Besar

9,126

BERANIDAKWAH.COM | Tata Cara Mandi Janabah/ Mandi Besar. Imam Syafi’i berkata dalam Al-Umm, “Allah Ta’ala telah mewajibkan mandi secara mutlaq. Tidak menyebutkan sesuatu yang harus dimulai, bagaimana pun caranya seorang mandi, maka akan mendapatkan balasannya, yaitu bila membasuh semua anggota badannya dengan penuh ketelitian. Bila tidak berwudhu sebelumnya, mandinya tetap sah. Tapi ulama sepakat disunnahkannya wudhu sebelum mandi.”

Cara Mandi Besar

Sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan ibunda Aisyah, ia menceritakan, “Rasulullah bila hendak mandi janabat, memulai dengan membasuh kedua telapak tangan sebelum dimasukka ke dalam bejana. Lalu membersihkan kemaluannya dan berwudhu sebagaimana hendak shalat. Lalu menyela-nyela rambutnya dengan air, menyiram kepalanya tiga kali, menyiramkan air ke seluruh tubuhnya dan membersihkan kedua kakinya.” (HR. Tirmidzi)

Dari hadits di atas bisa disimpulkan bagaimana cara mandi besar yang dicontohkan oleh Rasulullah,

Pertama, membaca basmalah, dengan niat menghilangkan hadats besar melalui mandi. Hal ini jelas bahwa semua amalan harus dimulai dengan niat, walau tidak harus diucapkan. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya semua perbuatan itu harus dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang itu sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari)

Selanjutnya membasu kedua telapak tangan sebanyak tiga kali sebelum dimasukkan ke dalam bejana. Hal ini ada dua kemungkinan, yaitu untuk membersihkan tangan karena ada kotoran, dan bisa jadi ini merupakan syari’at tersendiri bagi mereka yang baru terbangun dari tidurnya, dan ini yang paling benar sebagaimana perkataan Maimunah.

Kedua, beristinja’ dan membersihkan segala kotoran yang terdapat pada kemaluan. Karena mensucikannya terlebih dahulu akan lebih aman bila tersentuh di pertengahan mandi.

Ketiga, berwudhu seperti ketika hendak mengerjakan shalat. Permulaan wudhu sebelum mandi ini bisa jadi merupakan sunnah tersendiri, sehingga tetap wajib membasuh anggota wudhu dan anggota badan lannya ketika mandi. Dan bisa jadi cukup dibasuhnya ketika dalam wudhu, dan tidak perlu diulangi, tapi dalam wudhunya harus memiliki niat mandi janabat ketika ia memulai membasuh anggota badannya.

Dalam hal ini, ad-Dawadi berkata, “diutamakan membasuh anggota wudhu sesuai dengan urutan wudhu, tapi dibarengi dengan niat mandi janabat.” Dan pendapat Ibnu Bathal, adanya ijma’ bahwa wudhu tidak diharuskan ketika mandi, adalah pendapat yang tertolak. Karena banyak ulama, diantaranya Abu Tsur dan Daud yang mengatakan, bahwa mandi tidak bisa menggantikan posisi wudhu untuk menghilangkan hadats.

Hikmah dimulainya membasuh anggota wudhu sebelum mandi, adalah sebagai bentuk penghormatan, dan agar tercapai dua kesucian: yaitu kesucian dari hadats besar dan hadats kecil.

Adapun mengenai wudhu setelah mandi, cukup dengan wudhu yang pertama, karena juga berfungsi untuk menghilangkan hadats kecil. Dan menurut Muhammad Syamsulhaq Adzim Abadi, pengarang Syarh Aunul Ba’dud, “Tidak diragukan lagi, bahwa Nabi berwudhu dalam mandinya. Wudhu sebelum mandi itu sunnah, adapun wudhu usai mandi, Nabi tidak pernah menjaganya.”

Keempat, Menyela-nyela rambut dengan air, menyiram kepala dan kedua telinga sebanyak tiga kali. Dalam hal ini ada dua pendapat: pertama, Imam Syafi’i mewajibkan ketika mandi. Pendapat ini berdasar pada sabda Nabi,

“Segala sesuatu yang ada di bawah rambut terdapat wajib janabatnya, basahilah rambut dan bersihkanlah kulit.” (HR. Abu Daud)

Dan kedua, pendapat Abu Hanifah yang tidak memajibkannya, tapi cukip baginya menyiram kepala tiga kali, dan tidak wajib menyela-nyela rambutnya, karena Nabi pernah bersabda, “Cukup bagimu menyiram kepala sebanyak tiga kali.” Dan inilah yang menjadi pendapat kebanyakan para ulama.

Kelima, menyiramkan air ke seluruh tubuh. Dan membersihkan kedua kakinya. Menurut jumhur ulama, membasuh kedua kaki sunnahnya diakhirkan dalam mandi. Menurut Imam Malik, bila bersih, maka sunnahnya diakhirkan, bila tidak maka diawalkan. Dan hikmah mengakhirkan membasuh kedua kaki, menurut Imam al-Qurthubi agar permulaan dan akhir dari mandi dengan anggota wudhu.

Bila Ada Bagian Yang Tidak Terkena Air?

Bila wanita muslimah mengetahui ada bagian dari tubuhnya yang tidak terkena air, maka hendaknya ia membasahinya atau mengusapnya dengan tangan. Sebab, yang demikian itu sudah cukup baginya. Telah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia bercerita,

“Ada seseorang yang datang pada Nabi seraya berkata, “Sesungguhnya aku telah mandi janabat dan mengerjakan shalat. Kemudian aku menerangi diriku dan ternyata masih melihat ada bagian dari tubuh yang tidak terkena air.” Maka Rasulullah menjawab, “Seandainya kamu mengusapnya dengan air, maka itu sudah cukup bagimu.” (HR. Ibnu Majah)

Demikian tadi ulasan tentang bagaimana tata cara mandi janabah/ mandi besar yang benar. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan