Makna Tauhid dan Tauhid Rububiyah

20,803

BERANIDAKWAH.COM | Makna Tauhid dan Tauhid Rububiyah. Allah menciptakan makhluk agar mereka mengenal dan beribadah kepada-Nya. Inilah tujuan yang dituntut, semakin sempurna ma’rifatnya kepada Allah, semakin sempurna pula ibadahnya. Sebaliknya, berkurangnya pengetahuan hamba akan Allah maka berkurang pula kesempurnaan ibadahnya.

Beriman kepada Allah bukan hanya sekedar di ucapkan melalui lisan, “Aku beriman kepada Allah,” Akan tetapi hakikat iman kepada Allah adalah pengenalan seorang hamba kepada Rabbnya dan mengerahkan segala kemampuan untuk mengenal-Nya melalui asma Allah yang husna dan sifat-sifat-Nya yang Mulia.

Menyibukkan diri untuk mengenal Allah adalah sesuatu yang mulia, karena kemualiaan yang akan dikenalnya yaitu Allah Azza wa Jalla, juga menyesuaikan diri dengan tujuan penciptaannya yaitu beribadah kepada-Nya. Sebaliknya, mengabaikan dan meninggalkannya adalah bentuk penyelewengan terhadap tujuan penciptaannya, bahkan bencana dan sumber utama kebinasaannya.

Makna Tauhid

Tauhid adalah menyakini keesaan Allah dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepada-Nya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifatnya. Dengan demikian, tauhid ada tiga macam: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wa sifat.

Makna Tauhid Rububiyah

1. Yakni mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, dengan menyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Allah berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu…” (QS. Az-Zumar: 62)

2. Bahwasannya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Allah berfiman:

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya…” (QS. Hud: 6)

3. Dan bahwasanya Dia adalah penguasa dan pengatur alam semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatu. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang menghidupkan dan mematikan. Allah berfirman:

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di yangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, da Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Ali-Imran: 26-27)

4. Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki. Allah berfirman:

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah…” (QS. Luqman: 11)

“Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizki-Nya?” (QS. Al-Mulk: 21)

5. Allah menyatakan pula tentang keesaan-Nya dalam rububiyyah-Nya atas segala alam semesta. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

6. Allah menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.

Katakanlah, “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Katakanlah, “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” katakanlah, “Siapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al-Mu’minun: 86-89)

Jadi, tauhid rububiyah ini diakui oleh semua orang sebelum mereka lahir, tidak ada umat manusia pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah:

Berkata rasul-rasul mereka, “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?” (QS. Ibrahim: 10)

Adapun orang yang paling dikenal dengan pengingkarannya adalah Fir’aun. Namun demikian di hatinya masih tetap menyakini-Nya. Sebagaimana perkataan Musa kepadanya:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka menyakini (kebeneran) nya.” (QS. An-Naml: 14)

Ia juga menceritakan Fir’aun dan kaumnya:

Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.” (QS.-Al Isra: 102)

Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, seperti komunis. Mereka hanya menampakkan keingkaran karena kesombongannya. Akan tetapi pada hakikatnya, secara diam-diam batin mereka menyakini bahwa tidak ada satu makhluk pun yang ada tanpa Pencipta, dan tidak ada satu benda pun kecuali ada yang membuatnya, dan tidak ada pengaruh apapun kecuali pasti ada yang mempengaruhinya.

Allah berfirman:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak menyakini (apa yang mereka katakan).” (QS. At-Thur: 35-36)

Maka alangkah kita mau memperhatikan alam semesta ini, baik yang di atas maupun yang di bawah dengan segala bagian-bagiannya, anda pasti mendapati semua itu menunjukkan kepada Pembuat, Pencipta dan Pemiliknya. Maka mengingkari dalam akal dan hati terhadap pencipta semua itu, sama halnya mengingkari ilmu itu sendiri dan mencampakkannya, keduanya tidaklah berbeda.

Adapun pengingkaran adanya Tuhan oleh orang-orang komunis saat ini hanyalah karena kesombongan dan penolakan terhadap hasil renungan dan pemikiran yang sehat. Siapa yang seperti ini sifatnya maka dia telah membuang akalnya dan mengajak orang lain untuk menertawakan dirinya.

Tauhid Rububiyah Mengharuskan Adanya Tauhid Uluhiyah

Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah. Dan itulah tauhid uluhiyah.

Tauhid uluhiyan, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma’bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam doa kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih hewan qurban atau bernadzar untuk-Nya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untuk-Nya dan karena-Nya semata.

Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajbnya tauhid uluhiyah. Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini.

Seperti firman Allah:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Allah memerintahkan umat manusia bertauhid uluhiyah, yaitu menyembah-Nya dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari pertama hingga tang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuh tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan yang lainnya, dari benda-benda atau orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun.

Maka barangsiapa yang mengira bahwa tauhid itu hanya menyakini wujud Allah, atau menyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang dibawa oleh para rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan, atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan