Tiga Perkara Yang Menyelamatkan Dan Mencelakakan

1,800

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang tiga perkara yang menyelamatkan dan mencelakakan. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah!

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala, yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita. Aku bersaksi tiada sesembahan yang wajib disembah kecuali Allah Ta’ala. Tiada sekutu bagi-Nya, Dia-lah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepadanya, kepada sahabat dan kepada kerabatnya serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Lewat mimbar Jumat ini kami mengajak kepada diri saya dan hadirin sekalian untuk meningkatkan iman dan taqwa kita pada Allah Ta’ala. Karena hanya dengan iman dan taqwa yang akan menyelamatkan diri kita di hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak, yaitu hari akhirat.

Pada kesempatan ini juga akan menyampaikan sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

Artinya: “Tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang menyesatkan. Adapun perkara yang menyelamatkan adalah taqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, dan berkata haq dalam keadaan ridha dan marah, dan sederhana dalam keadaan kaya dan fakir. Adapun perkara yang mencelakakan adalah hawa nafsu yang dituruti, dan kekikiran yang ditaati, dan bangga akan diri sendiri, dan hal ini merupakan yang paling berbahaya.” (HR. Al Baihaqi)

Alangkah indanhnya ucapan beliau yang mencakup segala jalan kebaikan, memperingatkan dari segala jurang-jurang kehancuran. Adapun taqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-teranganm, maka itu adalah pokok segala urusan. Dengannya kebaikan dapat dicapai dan kejahatan dapat ditepis. Pelakunya selalu merasa takut kepada Allah selamanya dan mengetahui dekatnya Zat Maha Raja yang Maha Mengetahui. Hasilnya adalah seseorang akan merasa malu kepada Rabb-nya jika Dia melihatnya berada dalam kemaksiatan dan mendapatinya tidak berada dalam perkara-perkara yang mendekatkannya kepada ridha-Nya.

Taqwa inilah yang menjadikan diri kita bahagia. Bahkan keluarga dan juga masyarakat serta bangsa jika ingin mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan harus menjadi masyarakat yang bertaqwa. Sebaliknya, penduduk negeri yang tidak bertaqwa kepada Allah Ta’ala akan tertimpa berbagai musibah dan bencana yang bertubi-tubi. Sudah seharusnya kita berusaha mengajak masyarakat menjadi masyarakat yang bertaqwa agar dijauhkan dari bencana dan didekatkan kepada kebahagiaan.

Sedangkan berkata haq dalam keadaan ridha maupun marah, maka sesungguhnya hal itu merupakan pertanda kejujuran dan keadilan serta bukti yang paling nyata akan keimanna dan penguasaan seorang hamba atas amarah dan nafsunya. Sesungguhnya tidaklah selamat dari nafsu itu kecuali orang-orang yang jujur sehingga kemarahan dan nafsu tidak mengeluarkannya dari kebenaran dan tidak menjerumuskannya kedalam kebatilan. Bahkan kejujuran mencakup seluruh keadannya dan meliputinya.

Yang lebih penting lagi adalah mengatakan kebenaran saat kebenaran itu dibutuhkan umat. Karena seseorang yang mengetahui kebenaran dan tidak mau menyampaikan kepada umat saat kebenaran tersebut sangat dibutuhkan maka pelakunya terancam dengan hadits Rasulullah:

HR. Ibnu Majah No. 257

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Aswad bin Amir] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Imarah bin Zadzan] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ali bin Al Hakam] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Atho`] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang lelaki menghapal suatu ilmu kemudian menyembunyikannya, kecuali pada hari kiamat ia akan didatangkan dalam kondisi dicambuk dengan cambuk api neraka.” Abul Hasan -yaitu Al Qaththan- berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Walid berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Imarah bin Zadzan lalu ia menyebutkan hadits yang serupa.” (HR. Ibnu Majah)

Menjadi kewajiban bagi orang yang mengetahui kebenaran agar membimbing umat menuju jalan kebenaran dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela. Begitu juga dengan keserdahanaan dalam keadaan miskin dan kaya. Sesungguhnya ia merupakan tanda kekuatan akal, manajemen yang baik, kepatuhan dan perwujudan dari petunjuk Allah Yang Maha Kuasa, yang terdapat dalam firman-Nya:

QS. Al Furqon Ayat 67

Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Jadi, tiga perkara ini mencakup seluruh kebaikan yang berkaitan dengan hak Allah, dan hak pribadi, serta hak para hamba. Dan pelakunya mendapat kemenangan dengan kemuliaan, petunjuk dan bimbingan.

Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah!

Adapun perkara yang mencelakakan adalah hawa nafsu yang dituruti. Berapa banyak orang yang tersesat dari jalan kebenaran karena memperturutkan hawa nafsunya. Dan berapa banyak orang yang menempuh jalan kekufuran karena memperturutkan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman:

QS. Al Qasas Ayat 50

Artinya: “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Sesungguhnya hawa nafsu membuat jatuh pengikutnya ke dalam jurang yang paling rendah. Hawa nafsu mendorong jiwa ke dalam syahwat-syahwat berbahaya yang menghancurkan. Maka, sudah seharusnya seorang mukmin mengendalikan hawa nafsunya serta diarahkan untuk ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.

Adapun yang kedua adalah kekikiran yang ditaati. Manusia itu tabiatnya menuruti kekikirannya. Dan beruntunglah seseorang yang terjaga dari sifat kekikiran ini. Allah Ta’ala berfirman:

QS. Al Hasyr Ayat 9

Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”

Barangsiapa yang menuruti kekikirannya maka dia termasuk orang yang merugi. Kekikiran itu menyebabkan kebatilan dan mencegah hak-hak yang lain, menyeru kepada madharat, pemutusan hubungan dan kedurhakaan. Kekikiran menyeru pengikutnya memutuskan hubungan, maka mereka memutuskannya. Mengajak mereka untuk enggan memberikan hak-hak yang wajib atas mereka, maka mereka mematuhinya. Memikat mereka dengan muamalat yang buruk seperti mengurangi hak, curang dan riba, maka mereka melakukannya. Kekikiran menyeru kepada segala pelaku yang hina dan mencegah dari segala perilaku yang baik.

Kikir dan Iman tidak akan pernah berkumpul di dalam hati seseorang selama-lamanya. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Dan tidaklah berkumpul kekikiran dan iman di dalam hati seorang hamba selamanya.”

Sedangkan rasa bangga terhadap diri sendiri adalah penghancur yang paling berbahaya dan perkara yang paling jelek. Rasa bangga terhadap diri sendiri adalah pintu takabur, sombong dan tipu daya juga sarana menuju kecongakan dan penghinaan atas makhluk, yang merupakan kejahatan besar.

Hendaknya seseorang yang terjangkiti rasa bangga terhadap dirinya menyadari bahwa dia adalah makhluk yang lemah. Kekayaan, kecerdasan dan juga beberapa kelebihan dunia lainnya hanyalah titipan Allah Ta’ala. Segala miliknya akan diambil oleh Sang Pencipta dan tidak tersisa lagi baginya kecuali amal yang menyertainya, entah itu amal baik ataupun amal buruk. Sungguh tidak layak seseorang bangga atas dirinya yang sejatinya bukan siapa-siapa.

Jadi tiga perkara yang menghancurkan ini adalah hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang ditaati dan bangga akan diri sendiri, siapa saja yang menghimpunnya maka dia termasuk orang yang celaka. Dan siapa yang bersifat dengannya maka dia akan mendapatkan murka dari Allah dan berhak mendapatkan adzab yang menghinakan.

Berbahagialah orang-orang yang hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang dirihadi Allah, bahagialah orang yang dijaga dan kekirian dirinya, sehingga dia termasuk orang-orang yang beruntung, dan mengenal dirinya lalu tunduk pada kebenaran dan baik perilakunya terhadap orang-orang yang beriman.

Semoga Allah mencurahkan akhlak yang mulia kepada kita semua, dan menjaga kita dari segala akhlak yang buruk dan bahanyanya. Demikian khutbah jumat yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini, jika ada benarnya datangnya dari Allah Ta’ala dan jika ada salahnya datangnya dari saya sendiri karena bisikan setan. Kita berlindung kepada Allah dari berbagai kejelakan yang menimpa diri kita.

KHUTBAH KEDUA

Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah!

Alangkah berbahagianya seandainya kita hidup di masyarakat yang masing-masing penghuninya mengamalkan apa yang telah disabadakan oleh Rasulullah tersebut. Kita tidak akan khawatir dikhianati para pemimpin, karena mereka merasa selalu dalam pengawasan Allah. Orang yang lemah tidak takut marahnya orang yang kuat karena merasa semua takut kepada Dzat Yang paling ditakuti yaitu Allah Ta’ala. Orang yang miskin tidak akan khawatir hidup kekurangan karena yang kaya merasa cukup dengan keserdehanaan dan sisa harta yang masih mereka miliki otomatis tersalurkan kepada yang membutuhkan.

Sebaliknya, kita akan sengsara hidup di masyarakat yang orang-orangnya berlomba-lomba untuk menuruti hawa nafsunya tanpa menghiraukan batasan syariat, masing-masing mencari peluang memperbanyak rezeki untuk ditimbun maupun dikeluarkan untuk kemaksiatan, sekaligus merasa dirinyalah yang paling baik keadaannya.

Apapun kondisi yang kita hadapi saat ini, kita harus selalu berusaha melaksanakan apa yang Rasulullah arahkan dan berusaha menghindari apa yang beliau peringatkan. Setiap diri bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Allah Dzat yang kepada-Nya kita minta pertolongan dan ampunan. Marilah kita berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan kekhusyukan.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan