Tipe Manusia Di Madrasatul Hayah (Sekolah Kehidupan)

500,413

BERANIDAKWAH.COM | Tipe Manusia Di Madrasatul Hayah (Sekolah Kehidupan). Imam Ibnu Jauzi rahimahullah membuat teori sederhana tetapi sangat mengenai tentang klasifikasi karakter/ tipe manusia. Dikatakan sederhana karena Beliau hanya menggunakan ragam katakter anak-anak sekolah sebagai analoginya.

Beliau menganalogikan tipikal anak saat disekolah dengan tipe manusia dalam menjalani kehidupannya. Khususnya mengenai kebutuhan, keinginan nafsu serta kemampuan menggunakan potensi diri. Klasifikasi ini merupakan lintasan ide yang beliau catat dalam salah satu karya fenomenalnya, “Shaidul Khatir”.

Kategori pertama adalah anak-anak yang bodoh. Meskipun sekolah bertahun-tahun, saat lulus ia tak memahami apapun, tidak ada yang dia bawa dari sekolahnya. Bahkan meskipun tidak kelas dia jalani selama dua atau tiga tahun, hasilnya setali tiga uang. Ibnu Jauzi menyebutkan,”ini perumpamaan yang tidak mengetahui tujuan penciptaannya dan tidak mendapat manfaat dari keberadaannya di dunia.”

Dalam kehidupan nyata, mereka adalah orang-orang kafir yang sama sekali blank soal tujuan hidup. Dan bagi orang-orang yang mengaku beragama, tapi kosong dari hidayah-Nya. Orang-orang semacam itu, jatah umurnya ditambah maupun dikurangi tidak akan berguna karena hanya memburu kesenangan duniawi. Allah berfirman :

“Berpalinglah engkau dari orang-orang yang enggan berdzikir kepada Kami dan ia tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia. Yang demikian itu merupakan kadar ilmu yang mereka capai.” (QS. An-Najm : 29-30)

Tipe kedua, sebagian anak disekolah, disamping mereka ada bodoh dan malas, mereka gemar untuk mengganggu teman-temannya, mencuri barang dan menyakiti. Ini merupakan perumpamaan bagi penjahat dan pendosa.

Tipe ketiga adalah anak-anak yang menyukai belajar menulis halus namun tidak belajar berhitung. Meskipun sebenarnya tulisan mereka benar-benar bagus, dan setelah keluar mereka hanya mampu menulis hitungan. Ini merupakan penggambaran bagi manusia yang tertarik pada suatu hal, tapi melupakan perkara-perkara penting.

Mereka adalah orang-orang yang tertarik pada hal-hal tertentu yang tidak penting dan melupakan urusan agama. Orang-orang seperti ini sangat menyukai kegemarannya, menguasainya namun tidak sedikitpun yang mengetahui dien-nya.

Jika kamu bertanya mengenai apa kegemarannya maka mungkin akan mendapatkan jawaban yang luas karena pengetahuannya. Namun jika ditanya dengan urusan agama, hanya senyum kecut yang kamu dapatkan. Allah berfirman :

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Rum : 7)

Mereka rela menghabiskan banyak waktu, tenaga dan harta untuk memenuhi keinginan. Sedangkan akhirat mereka lalaikan. Tipe seperti ini merupakan kebanyakan tipe orang saat ini, kitapun menyadari masih banyak menyukai kesenangan dunia daripada akhirat, itulah faktanya.

Tipe keempat adalah anak-anak yang selalu serius belajar. Ia selalu mengejar prestasi-prestasi besar, berpacu dengan waktu untuk mencapai hal-hal besar dan mulia. Ini adalah karakter mukmin yang sempurna, mereka mengalahkan para pesaingnya dan menunjukkan rapor yang penuh prestasi. Merekalah as saabiquun bil khairat, para jawara dalam kebaikan.

Mereka sadar dan selalu sadar bahwa hal yang paling utama di dunia ini adalah prestasi di akhirat. Inilah yang selalu mereka kejar dan benar-benar menjadi obsesinya. Mendedikasikan hidupnya untuk segala hal yang bermanfaat di akhirat dan menambah pundi-pundi amalannya selama masih hidup.

Tipe kelima adalah anak-anak sekolah yang baik namun lemah dalam semangat. Dalam kehidupan nyata mereka digambarkan seperti orang-orang yang mencukupkan diri dengan hal-hal yang wajib saja. Cukup puas dengan menjadi muslim yang awam, tidak terbesit untuk berjuang lebih, menggali potensi dan mencapai catatan terbaik.

Dengan mengetahui hal ini, semoga kita sadar dan mau merenungkan kembali tujuan kenapa kita terlahir di dunia ini? Dan untuk apa? Semoga Allah selalu menambah semangat kita dalam mempelajari Al-Qur’an sehingga mampu meninggikan derajat kita di sisi Allah.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan